LAPORAN PENDAHULUAN
BASALIOMA
KONSEP DASAR
Definisi Basalioma (Karsinoma Sel Basal)
Basalioma adalah suatu tumor ganas kulit (kanker) yang berasal dari pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit ( Marwali,2000).
Basalioma adalah merupakan tumor ganas yang berasal dari sel lapisan basal epidermis bersifat invasive, destruktif lokal, dan sangat jarang bermetastasis (Nila,2000).
Basalioma adalah merupakan kanker kulit yang timbul dari lapisan sel basal epidermis atau folikel rambut ; yang paling umum dan jarang bermetastasis ; kekambuhan umum terjadi (Brunner and Suddarth, 2000).
Basalioma merupakan jenis kanker kulit dan tumor ganas pada manusia yang paling sering terjadi dan lebih banyak mengenai orang kulit putih dan jarang terjadi pada orang kulit hitam.( Shirley, 2005).
Basalioma adalah keganasan sel basal epidermis.( Beth Goldstein, 2001).
Etiologi
Penyebabnya belum pasti diketahui. Lebih dari 90% penyebab basalioma yaitu terpapar sinar matahari atau penyinaran ultraviolet lainnya. Lokalisasi kanker kulit lebih banyak terdapat di daerah kulit yang terbuka, terpapar sinar matahari misalnya kulit muka. Paling sering muncul pada usia diatas 40-70 tahun dan lebih di jumpai pada pria dengan perbandingan 2 : 1, mungkin di karenakan kaum pria lebih banyak ke luar rumah dan perpapar sinar matahari.
Faktor resiko lainnya yaitu:
a. Faktor genetik (sering terjadi pada kulit terang, mata biru atau hijau dan rambut pirang.
b. Pemaparan sinar X yang berlebihan.
c. Senyawa kimia arsen, trauma dan ulkus kronis.
Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang menyertai penyakit basalioma adalah presileksinya terutama pada wajah (pipi, dahi, hidung, lipat nasolabial, daerah periorbital), leher. Meskipun jarang dapat pula dijumpai pada lengan, tangan, badan, tungkai, kaki dan kulit kepala.
Gambaran klinik basalioma berdasarkan histopatologi terbagi menjadi 5 bentuk :
a. Nodulo-ulseratif, termasuk ulkus rodens
Merupakan jenis yang paling sering di jumpai. Lesi biasanya tampak sebagai lesi tunggal. Paling sering mengenai wajah, terutama pipi, lipat nasolabial, dahi, dan tepi kelopak mata. Pada awalnya tampak papul atau nodul kecil, transparan seperti mutiara, berdiameter kurang dari 2 cm, dengan tepi meninggi. Permukaannya tampak mengkilat sering dijumpai adanya teleangiektasia dan kadang-kadang dengan skuama yang halus atau kusta tipis. Berwarna seperti mutiara, kadang-kadang seperti kulit normal sampai eritem yang pucat. Lesi membesar secara perlahan dan suatu saat bagian tengah lesi menjadi cekung, meninggalkan tepi yang meninggi, keras. Jika terabaikan, lesi-lesi ini akan mengalami ulserasi dengan destruksi jaringan disekitarnya.
b. Berpigmen
Gambaran klinisnya sama dengan yang tipe nodulo-ulseratif. Bedanya, pada jenis ini berwarna cokelat atau hitam berbintik-bintik atau homogen yang secara klinis dapat menyerupai melanoma.
c. Morfea atau fibrosing atau sklerosine
Biasanya terjadi pada kepala dan leher. Lesi tampak sebagai plak sklerotik yang cekung, berwarna putih kekuningan dengan batas tidak jelas. Lesi tampak sebagai bercak sklerodermatosa dan tidak memberi kesan basalioma bila dilihat oleh mata yang tidak berpengalaman. Pertumbuhan perifer di ikuti oleh perluasan sklerosis di tengahnya.
d. Superfisial
Lesi biasanya multiple, mengenai badan. Secara klinis tampak sebagai plak transparan, eritematosa sampai berpigmen terang berbentuk oval sampai ireguler dengan tepi berbatas tegas, sedikit meninggi, seperti benang atau kawat. Biasanya dihubungkan dengan ingesti arsenic kronis.
e. Fibroepitelioma
Paling sering terjadi pada punggung bawah. Secara klinis lesi berupa papul kecil yang tidak bertangkai atau bertangkai pendek dengan permukaan halus atau noduler dengan warna yang bervariasi.
Disamping itu terdapat pula 3 sindroma klinis, dimana epitelioma sel basal berperan penting, yaitu :
Sindroma epitelioma sel basal nevoid
Dikenal pula sebagai sindrom Gorlin Goltz. Merupakan kelainan autosomal dominan dengan penetrasi yang bervariasi, ditandai oleh 5 gejala mayor yaitu:
1) Basalioma multiple yang terjadi pada usia muda.
2) Cekungan-cekungan pada telapak kaki.
3) Kelainan pada tulang, terutama pada tulang rusuk.
4) Kista pada tulang rahang.
5) Kalsifikasi ektopik dari falks serebri dan struktur lainnya.
Nevus sel basal unilateral linier
Merupakan jenis yang sangat jarang di jumpai. Lesi berupa nodul dan komedo, dengan daerah atrofi bentuk striae, distribusi zosteriformis atau linier, unilateral. Lesi biasanya di jumpai sejak lahir dan lesi ini tidak meluas dengan meningkatnya usia.
Sindroma bazex
Sindrom ini digambarkan pertama kalinya oleh Bazex, diturunkan secara dominan dengan cirri khas sebagai berikut:
1) Atrofoderma folikuler, yang ditandai oleh folikuler yang terbuka lebar, seperti ice-pick marks, terutama pada ekstremitas.
2) Epitelioma sel basal kecil, multiple pada wajah, biasanya timbul pertama kali pada saat remaja atau awal dewasa. Namun kadang-kadang dapat juga timbul pada masa akhir anak-anak.
Anatomi Fisiologi Kulit
Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. ( Marwali,1998).
Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan melindungi permukaan tubuh, berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga, lubang-lubang yang masuk. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa.( syaifudin,1997).
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia.(syarif M.Wasitaatmadja, 1993).
Kulit terbagi atas 3 lapisan pokok yaitu epidermis, dermis atau korium, dan jaringan subkutan atau subkutis.
Lapisan kulit
1. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar pada kulit.
Terdiri dari beberapa lapisan sel, yaitu:
a. Stratum korneum adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri dari beberapa lapis sel-sel gepeng yang sudah mati, tidak mempunyai inti sel, inti selnya sudah mati, dan protoplasmanya telah berubah menjadi zat keratin (zat tanduk).
b. Stratum lusidum terdapat langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Selnya pipih, bedanya dengan stratum granulosum ialah sel-sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir-butir sel-sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir-butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar.
Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki. Dalam lapisan ini terlihat seperti suatu pita yang bening. Batas-batas sel sudah tidak begitu terlihat disebut stratum lusidum.
c. Stratum granulosum. Stratum ini terdiri dari sel-sel pipih seperti kumparan, sel-sel tersebut terdapat hanya 2-3 lapis yang sejajar dengan permukaan kulit. Dalam sitoplasma terdapat butir-butir yang disebut keratohialin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin oleh karena banyaknya butir-butir stratum granulosum.
d. Stratum spinosum/stratum akantosum. Lapisan ini merupakan lapisan yang paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan. Sel-selnya disebut spinosum karena jika kita lihat dibawah mikroskop bahwa sel-selnya terdiri dari sel yang bentuknya polygonal/banyak sudut dan mempunyai tanduk (spina). Disebut akantosum sebab sel-selnya berduri.
e. Stratum basal/germinativum. Disebut stratum basal karena sel-selnya terletak dibagian basal/basis, stratum germinativum menggantikan sel-sel yang diatasnya dan merupakan sel-sel induk.
2. Dermis
Dermis merupakan lapisan kedua dari kulit, batas dengan epidermis dilapisi oleh membrane basalis dan disebelah bawah berbatasan dengan subkutis tapi batas ini tidak jelas hanya kita ambil sebagai patokan ialah mulainya terdapat sel lemak.
Dermis terdiri dari 2 lapisan, yaitu;
a. Bagian atas, pars papilaris (stratum papilar), yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Bagian bawah, retikularis ( statum retikularis), yaitu bagian di bawahnya yang menonjol ke arah subkutan.
3. Subkutis adalah kelanjutan dermis, Subkutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan-jalan serabut jaringan ikat dermis. Sel-sel lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir, sehingga membentuk seperti cincin.
Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus, yang tebalnya tidak sama pada tiap-tiap tempat dan juga pembagian antara laki-laki dan perempuan tidak sama.
Guna penikulus adiposus adalah sebagai shock breker = pegas/bila tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit. Isolator panas atau mempertahankan suhu, penimbunan kalori, dan tambahan untuk kecantikan tubuh.
Fisiologi kulit
Kulit mempunyai banyak fungsi. Secara umum fungsi kulit adalah sebagai berikut
1. Sebagai proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi, misalnya zat-zat kimia terutama yang bersifat iritan, contohnya lisol, karbol, asam, dan lain-lain.
2. Sebagai pengatur panas
Suhu tubuh tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini disebabkan karena adanya penyesuaian antara panas yang dihasilkan oleh pusat pengatur panas, medulla oblongata. Suhu normal dalam tubuh yaitu suhu visceral 36-37,5 derajat untuk suhu kulit lebih rendah..
3. Sebagai indera peraba
Rasa sentuhan disebabkan rangsangan pada ujung saraf, dikulit berbeda-beda menurut ujung saraf yang dirangsang, panas, dingin, dan sakit ditimbulkan karena tekanan yang dalam dan rasa yang berat dari suatu benda misalnya mengenai otot dan tulang.
Panca indera peraba terdapat pada kulit disamping itu kulit juga sebagai pelepas panas yang ada pada tubuh, kulit menutupi dan berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga dan lubang-lubang. Kulit mempunyai banyak ujung-ujung saraf peraba yang menerima rangsangan dari luar diteruskan ke pusat saraf pusat di otak.
Ujung-ujung reseptor serabut pada kulit memungkinkan tubuh untuk memantau secara terus-menerus keadaan lingkungan di sekitarnya. Fungsi utama reseptor pada kulit adalah untuk mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan tekanan (atau sentuhan yang berat). Berbagai ujung saraf bertanggung jawab untuk bereaksi terhadap setiap stimuli yang berbeda. Meskipun tersebar diseluruh tubuh, ujung-ujung saraf lebih terkonsentrasi pada sebagian daerah dibandingkan bagian lainnya. Sebagai contoh, ujung-ujung jari tangan jauh lebih terinervasi ketimbang kulit pada bagian punggung tangan.
4. Sebagai absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap.
5. Produksi Vitamin
Kulit yang terpajan sinar ultraviolet dapat mengubah substansi yang diperlukan untuk mensintesis vitamin D. Vitamin D merupakan unsur esensial untuk mencegah penyakit riketsia, suatu keadaan yang terjadi akibat defisiensi vitamin D, kalsium serta fosfor dan yang menyebabkan deformita tulang
Patofisiologi
Basalioma merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan. Basalioma berasal dari sel epidermis sepanjang lamina basalis. Kanker sel basal terjadi pada daerah terbuka yang biasanya terpapar sinar matahari, seperti wajah, kepala, dan leher. Untungnya tumor ini jarang sekali bermetastasis. Pasien dengan kanker sel basal tunggal lebih mudah mendapat kanker kulit.
Spektrum sinar matahari yang bersifat karsinogen adalah sinar yang panjang gelombangnya, berkisar antara 280 samapi 320 mm. Spektrum inilah yang membakar dan membuat kulit menjadi cacat. Selain itu, pasien yang memiliki riwayat kanker sel basal harus menggunakan tabir surya atau pakaian pelindung untuk menghindari sinar karsinogen yang terdapat di dalam sinar matahari.
Penyebab lain basalioma adalah riwayat pengobatan, radiologi, sebelumnya untuk menyembuhkan penyakit kulit lain. Sinar ultraviolet panjang (UVA) yang dipancarkan oleh alat untuk membuat kulit kecoklatan seperti terbakar sinar matahari juga merusak epidermis dan di anggap sebagai karsinogen.
Tumor ini ditandai oleh nodul eritromatosa, halus dan seperti mutiara, bagian tengah mengalami ulserasi dan perdarahan, meninggi dan memiliki pembuluh telangiektatik pada permukannya.
Patway
Penyebab (externa)
↓
Zat karsinogenik
↓
Pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit
↓
Basalioma
↓
Tindakan medis : operasi Basalioma
↓
Kurang informasi
↓
Bertanya tentang penyakitnya
↓
Penurunan status kesehatan
↓
Kebutuhan akan belajar
Kurang pengetahuan↓
Terputusnya jaringan
↓
Rangsangan terhadap reseptor nyeri di korteks serebri
↓
Nyeri dipersepsikan
↓
Nyeri akut
Eksisi bedah/luka
↓
Media masuknya mikroorganisme
↓
Infeksi
↓
Resiko infeksi
Tindakan medis invasive
↓
Struktur kulit terputus
↓
Perubahan terhadap fungsi kulit
↓
Kerusakan integritas kulit
(Price and Wilson, 2005)
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita basalioma adalah :
a. Anamnesis, keluhan utama adalah adanya benjolan atau borok di kulit terutama di daerah terbuka seperti muka, lengan, dan kaki.
b. Pemeriksaan fisik, lesi terbanyak di daerah muka, tungkai, lengan, berupa nodul atau ulkus iduratif, pinggir dan dasar ulkus teratur dan kotor.
c. Evaluasi histologis
d. Biopsi, sebelum dilakukan terapi selalu dilakukan biopsi untuk konfirmasi histopatologi sebelum terapi. Tumor yang berukuran kecil dapat dilakukan biopsi eksisi, sedang ukuran besar biasanya biopsi insisi.
Penataksanaan
Dalam memilih metode pengobatan yang tepat untuk karsinoma sel basal ( basalioma) perlu diperhatikan beberapa faktor berikut:
a. Faktor penderita
– Keadaan umum dan usia penderita.
– Sosio-ekonomi penderita.
b. Faktor tumor
– Lokasi dan hubungannya dengan jaringan sekitarnya (perlekatan dengan tulang rawan, tulang, daerah mata, bibir).
– Ukuran tumor.
– Jenis histology.
– Riwayat tumor (rekurensi, pengobatan sebelumnya).
– Terjadinya metastasis.
c. Faktor fasilitas
– Peralatan yang ada.
– Pengalaman dan keahlian dokter yang mengobati.
d. Faktor metode yang akan digunakan.
– Mempertimbangkan kemungkinan komplikasi yang terjadi, terutama daerah wajah.
– Memilih metode yang telah dikuasai dengan angka kesembuhan yang tinggi.
Adapun berbagai jenis penatalaksanaan untuk karsinoma sel basal itu antara lain:
a. Kuretase dan Elektrodesikasi
Biasanya kanker diangkat melalui pengorekan lalu dibakar dengan jarum listrik atau dipotong dengan pisau bedah. Sebelumnya diberikan suntukan anestesi.
b. Bedah Eksisi
Tujuan utamanya adalah untuk mengangkat keseluruhan tumor. Ukuran insisi tergantung pada ukuran dan lokasi tumor.
c. Radioterapi
Terapi ini hanya di kerjakan pada pasien yang berusia lanjut karena perubahan akibat sinar x dapat terlihat sesudah 5-10 tahun kemudian dan perubahan malignan pada sikatriks dapat timbulkan oleh sinar x setelah 15-30 tahun kemudian.
d. Bedah beku
Bedah beku menghancurkan tumor dengan cara dreep freezing, yaitu dengan cara jaringan tumor di beku dinginkan,dibiarkan melunak dan kemudian di beku dinginkan kembali kemudian mengalami gelatinisasi dan sembuh spontan.
e. Bedah mikrografik Mohs
Merupakan metode pembedahan untuk mengangkat lesi kulit yang malignan. Metode ini paling akurat dan menyelamatkan jaringan normal.
f. Beberapa cara pengobatan baru meliputi 5 fluorourasil yang dikombinasikan dengan kuretase ringan, retinoat, interferon,terapi fotodinamik.
Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat di timbulkan dari penyakit kanker kulit ini yaitu:
a. Akibat pembedahan dan terapi radiasi:
– Jaringan yang di buat tergores/ terluka.
– Perubahan warna kulit.
– Timbulnya perubahan pada kulit dari alat-alat kosmetik.
– Luka kulit yang kronis.
– Keterbatasan anggota badan jika pengobatan luas.
b. Akibat kemoterapi dan bioterapi:
– mual dan muntah.
– syndrome flulike.
– mielosupresi.
– paresthesia
– fibrosis pulmonary.
– hipersensivitas.
– alopesia.
– reaksi alergi.
c. Umum:
– Timbulnya perubahan pada kulit dari alat-alat kosmetik dan citra tubuh.
– Kehilangan fungsi pada ekstremitas.
– Perlukaan dan perubahan warna kulit.
– Proses hasil metastase penyakit pada paengobatan invasif dan potensial kematian terakhir.
Pencegahan
Untuk mencegah kekambuhan, hindari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit basalioma, antara lain:
– Lindungi kulit dari cahaya matahari dengan menggunakan topi, kemeja lengan panjang, celana panjang atau rok panjang.
– Sinar matahari yang paling kuat adalah pada tengah hari, karena itu sebaiknya hindari sinar matahari pada tengah hari.
– Gunakan tabir surya berkualitas tinggi, minimal dengan SPF ( Solar Protection Factor)15, yang menghambat sinar UV( Ultra Violet) A dan UV ( Ultra Violet) B.
– Oleskan tabir surya minimal setengah jam sebelum bepergian dan oleskan sesering mungkin.
– Periksalah kulit secara teratur untuk mengetahui adanya berbagai perubahan yang mengarah kepada keganasan (pertumbuhan baru di kulit yang membentuk tukak, mudah berdarah, sukar sembuh, berubah warna, ukuran, struktur, terasa nyeri, meradang atau gatal).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.Pengkajian
1. Data Dasar
a. Identitas
Kajian ini meliputi nama, inisial, umur, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, pekerjaan yang terpapar sinar matahari misalnya: petani,buruh bangunan dan lain-lain dan tempat tinggal klien. Selain itu perlu juga dikaji nama dan alamat penanggung jawab serta hubungannya dengan klien.
b. Riwayat penyakit dahulu
Berupa penyakit dahulu yang pernah diderita yang berhubungan dengan keluhan sekarang.
c. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi alasan masuk rumah sakit, kaji keluhan klien, kapan mulai tanda dan gejala. Faktor yang mempengaruhi, apakah ada upaya-upaya yang dilakukan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit basalioma atau kanker (Engram, 1998).
e.Riwayat pemakaian obat-obatan dan kosmetik
Kajian ini meliputi pemakaian obat-obatan yang terjual bebas dan pemakaian kosmetik yang salah.
f. Data biologis
1). Pola nutrisi : klien mengalami anoreksia, dan ketidakmampuan untuk makan.
2). Pola minum : Masukan cairan klien adekuat, pasca operasi, klien puasa total 24 jam (Doenges, et, al, 2002).
3). Pola eliminasi : Terjadi konstipasi dan berkemih tergantung masukan cairan (Brunner & Suddarth, 2002).
4). Pola istirahat dan tidur : Tidak dapat tidur dalam posisi baring rata pasca operasi (Doenges, et, al, 1999).
5). Pola kebersihan : Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari disebabkan pasca operasi.
6). Pola aktivitas : Keletihan melakukan aktivitas sehari-hari (Brunner and Suddarth, 2000).
g. Data Psikologis
1). Status emosi
2). Klien dapat merasa terganggu dan malu dengan kondisi yang dialaminya atau tidak (Brunner and Suddarth, 2002).
3). Gaya komunikasi : kesulitan berbicara dalam kalimat panjang/perkataan yang lebih dari 4 atau 5 sekaligus (Doenges, et, al, 1999).
4). Pola interaksi : tidak ada sistem pendukung, pasangan, keluarga, orang terdekat. Keterbatasn hubunan dengan orang lain, keluarga atau tidak (Doenges, et, al, 1999).
5). Pola koping : Klien marah, cemas, menarik diri atau menyangkal.
h. Data sosial
1). Pendidikan dan pekerjaan : tingkat pengetahuan tentang operasi minim.
2). Hubungan social : kurang harmonisnya hubunan sosial merupakan stressor emosional pernafasan tidak teratur (Brunner & Suddarth, 2002).
3). Gaya hidup : kebiasan merokok, minum minuman berakohol, sering bergadang (Brunner & Suddarth, 2002).
i. Data spiritual
Keterbatasan melakukan kegiatan spiritual (Brunner & Suddarth, 2002).
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum lemah
b. Kesadaran composmentis sampai koma, tergantung tingkat efek pembedahan dan anestesi.
c. Tanda-tanda vital meningkat disebabkan adanya infeksi.
d. Kepala, leher, axilla : ekspresi wajah meringis, takut.
e. Hidung : pernafasan cuping hidung
f. Dada : berpengaruh apabila tingkatan infeksi tinggi akan mempengaruhi pernafasan cepat sampai retraksi.
g. Ekstremitas : ekstremitas berkeringat
(Brunner & Suddarth, 2002)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan pre-operatif
a. Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status kesehatan, kematian, nyeri.
b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topical, dan atau terapi radiasi
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan dan kemoterapi topical.
2. Diagnosa keperawatan post-operatif
a. Nyeri akut berhubungan dengan eksisi pembedahan.
b. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan eksisi.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi.
C.Intervensi Keperawatan
1.Diagnose keperawatan pre operatif
a. Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status kesehatan, kematian, nyeri
Tujuan : klien dan keluarga tidak cemas lagi.
Kriteria evaluasi :rasa takut dan cemas berkurang sampai hilang.
Intervensi :
1) .Kaji status mental termasuk ketakutan pada kejadian isi pikir.
Rasional :pada awal pasien dapat menyangkal dan represi untuk menurunkan dan menyaring informasi keseluruhan.(Doenges, 2000).
2). Jelaskan informasi tentang prosedur perawatan.
R:pengetahuan apa yang diharapkan menurunkan
3). Bantu kelurga untuk mengekspresikan rasa cemas dan takut.
Rasional :keluarga mungkin bermasalah dengan kondisi pasien atau merasa bersalah.(Doenges, 2000).
b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topical, dan atau terapi radiasi.
Tujuan: klien bisa menerima keadaannya.
Criteria evaluasi: mendiskusikan strategi untuk mengatasi perubahan pada citra tubuh.
Intervensi :
1). Kaji pengetahuan pasien trehadap adanya potensi kecacatan yang berhubungan dengan pembedahan dan atau perubahan kulit.
R: memberikan informasi untuk menformulasikan perencanaan.
2). Pantau kemampuan pasien untuk melihat perubahan bentuk dirinya.
R: ketidakmampuan untuk melihat bagian tubunhya yang terkena mungkin mengindikasikan kesulitan dalam kopping.
3). Dorong pasien untuk mendiskusikan perasaan mengenai perubahan penampilan dari pembedahan.
R: memberikan jalan untuk mengekspesikan emosinya.
4). Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat.
R: meningkatkan perasaan dan memungkinkan respons yang lebih membantu pasien.
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan dan kemoterapi topical.
Tujuan : klien bisa mengetahui penanganannya.
Kriteria hasil : menyatakan tindakan perawatan diri untuk menurunkan insiden dan bertambah beratnya gejala yang berhubungan dengan pengobatan.
Intervensi :
1). Beritahu kapan pembedahan/terapi radiasi akan dilakukan.
R: memberikan informasi yang diperlukan.
2). Jelaskan tujuan dari penanganan
R: meningkatkan pemahaman terhadap pengobatan.
3). Ajarkan untuk menggunakan kemoterapi topical.
R: meningkatkan perawatan diri sendiri
4). Beritahu kemungkinan efek samping dari pemberian obat topical seperti iritasi kulit dan pemakaian yang tidak tepat mungkin dapat menyebabkan kulit terkelupas atau melepuh.
R: Meningkatkan keamanan dari pemberian obat topical tanpa adnya komplikasi.
5). Beritahu adanya efek samping dari terapi radiasi dan tindakan keperawatan diri untuk mengatasinya.
R : meningkatkan perawatan diri.
2. Diagnosa keperawatan post-operatif.
a. Nyeri akut berhubungan dengan eksisi pembedahan.
Tujuan : nyeri berkurang sampai hilang.
Kriteria evaluasi :Klien akan melaporkan penurunan rasa nyeri dan peningkatan aktivitas setiap hari. Luka eksisi bedah sembuh setelah post operasi tanpa komplikasi.
Intervensi :
1). Observasi skala nyeri, lama intensitas nyeri.
Rasional :Membantu dalam mengidentifikasi derajat nyeri kebutuhan untuk analgesik (Doenges, 1999).
2). Berikan posisi yang nyaman tidak memperberat nyeri.
Rasional:Mengurangi tekanan pada insisi, meningkatkan relaksasi dalam istirahat (Doenges, 1999).
3). Beri obat analgesik (diazepam, paracetamol) sesuai terapi medik.
Rasional:Membantu mengurangi nyeri untuk meningkatkan kerjasama dengan aturan terapeutik (Brunner and Suddarth, 2001).
b. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan eksisi pembedahan.
Tujuan : meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi.
Kriteria evaluasi : luka bersih tidak tanda-tanda infeksi.
Intevensi :
1). Observasi luka, catat karakteristik drainase.
Rasional:Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja. Tergantung pada tipe penutupan luka (misal penyembuhan pertama atau kedua), penyembuhan sempurna memerlukan waktu 6-8 bulan (Doenges, 1999).
2). Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan tehnik steril.
Rasional:Sejumlah besar cairan pada balutan luka operasi , menuntut pergantian dengan sering menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi (Doenges, 1999).
3) .Bersihkan luka sesuai indikasi, gunakan cairan isotonic Normal Saline 0,9 % atau larutan antibiotik.
Rasional:Diberikan untuk mengobati inflamasi atau infeksi post operasi atau kontaminasi interpersonal (Doenges, 1999).
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi.
Tujuan : meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari infeksi serta tidak ada tanda demam.
Kriteria evaluasi : pertahankan lingkungan aseptik
Intervensi :
1). Perhatikan kemerahan disekitar luka operasi.
Rasional:Kemerahan paling umum disebabkan masuknya infeksi ke dalam tubuh di area insisi (Doenges, 1999).
2). Ganti balutan sesuai indikasi.
Rasional:Balutan basah bertindak sebagai sumbu untuk media untuk pertumbuhan bakterial.
3). Awasi tanda-tanda vital.
Rasional:Peningkatan suhu menunjukkan komplikasi insisi (Doenges, 1999).
Gangguan body image berhubungan dengan:
Biofisika (penyakit kronis), kognitif/persepsi (nyeri kronis), kultural/spiritual, penyakit, krisis situasional, trauma/injury, pengobatan (pembedahan, kemoterapi, radiasi)
DS:
Depersonalisasi bagian tubuh
Perasaan negatif tentang tubuh
Secara verbal menyatakan perubahan gaya hidup
DO :
Perubahan aktual struktur dan fungsi tubuh
Kehilangan bagian tubuh
Bagian tubuh tidak berfungsi
NOC:
Body image
Self esteem
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. gangguan body image
pasien teratasi dengan kriteria hasil:
Body image positif
Mampu mengidentifikasi kekuatan personal
Mendiskripsikan secara faktual perubahan fungsi tubuh
Mempertahankan interaksi sosial
NIC :
Body image enhancement
Kaji secara verbal dan nonverbal respon klien terhadap tubuhnya
Monitor frekuensi mengkritik dirinya
Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit
Dorong klien mengungkapkan perasaannya
Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu
Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil
D. Evaluasi
1. Pasien tidak cemas lagi.
2. Pengetahuan klien bertambah.
3. Nyeri akut berkurang.
4. Kerusakan integritas kulit dapat sembuh.
5. Resiko tinggi infeksi tidak terjadi
DAFTAR PUSAKA
Noor,Ahmad Saputra. 2012. Laporan Pendahuluan basalioma. https://makalahkeperawatan.wordpress.com/2012/09/09/makalah-basalioma/ . Diakses pada tanggal 14 Januari 2015 pukul 15.30
Fitra aLONGMU SKW. 2011. Bab II Tinjauan Teori. http://fitralxt190110.blogspot.com/2011/09/basalioma.html . Diakses pada tanggal 14 Januari 2015 pukul 15.16
DZAKY.2012. Basalioma bab ii . http://tragismengerikan.blogspot.com/2011/04/tumor-ganas-kulit-kanker.html . Diakses pada tanggal 14 Januari 2015 pukul 15.20
www.Diagnosa-Keperawatan-NANDA-NIC-NOC.html. Diakses pada tanggal 14 Januari 2015 pukul 15.30
Senin, 22 Juni 2015
Sabtu, 20 Juni 2015
DOWNLOAD MATERI KEPERAWATAN TINGKAT 1 SEMESTER 1
Mahasiswa teladan yuk mari download materi keperawatan Tingkat 1 Semester 1 dan khusus Prodi Keperawatan Politeknik dr.Soepraoen Malang
Falsafah dan Paradigma Keperawatan Kebutuhan Dasar Manusia
KDM 1 FISIOLOGI SEL & JARINGAN
Sistem Endokrin Sistem Pencernaan
Sistem Pernafasan Pancasila dan kewarganegaraan
Berfikir Kritis
PROPOSAL TUGAS AKHIR- PEMBERIAN KOMPRES HANGAT DALAM MENGURANGI ODEM PADA TONSIL YANG MEMBESAR
PROPOSAL
TUGAS AKHIR
PEMBERIAN KOMPRES HANGAT DALAM MENGURAGI ODEM PADA
TONSIL YANG MEMBESAR
PADA NY. L DI RS M

Disusun oleh:
LENI VITRIA
WULANDARI RAVI
NIM.
12.1.091
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN RS. Dr. SOEPRAOEN MALANG TAHUN AKADEMIK
2012/2013
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
PEMBERIAN KOMPRES HANGAT DALAM MENGURAGI ODEM PADA TONSIL YANG MEMBESAR
PADA NY. L DI RS M
Diajukan Sebagai
Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Ahli Madya
Keperawatan Pada Prodi Keperawatan
Politeknik
Kesehatan RS. Dr. Soepraoen
Malang

Disusun
Oleh:
LENI VITRIA WULANDARI RAVI
NIM. 12.1.091
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN RS. Dr. SOEPRAOEN MALANG
TAHUN AKADEMIK 2012/2013
LEMBAR
PERNYATAAN
Yang
bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Leni Vitria Wulandari Ravi
Tempat/tanggal
lahir : Lumajang, 14 Maret 1994
NIM
: 12.1.091
Alamat : Jalan PB. Sudirman GG.10 No. 17 Lumajang
Menyatakan
dan bersumpah bahwa Studi Kasus ini adalah hasil karya sendiri dan belum pernah
dikumpulkan oleh orang lain untuk memperoleh gelar dari berbagai jenjang
pendidikan di perguruan tinggi manapun.
Jika
dikemudian hari ternyata saya terbukti melakukan pelanggaran atas pernyataan
dan sumpah tersebut diatas, maka bersedia menerima sanksi akademik dari
almamater.
Malang,
20
Desember 2012
Yang Menyatakan
Leni Vitria Wulandari Ravi
NIM
12.1.091
HALAMAN
PERSEMBAHAN
![]() |
Kupersembahkan
Karya Tulis yang Sederhana ini kepada :
Ø Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan petunjuk jalan
serta keimanan dalam setiap langkahku.
Ø Kedua orang tuaku yang selalu mendidik dan membimbing aku
dari kecil sampai dewasa dan selalu mendoakan aku.
Ø Seluruh keluargaku yang selalu berada disampingku disaat
aku sedang butuh mereka dan disaat aku sedang sedih.
Ø Sahabat-sahabatku yang
selalu menemaniku dalam suka dan duka.
Ø Teman-temanku
angkatan 2011/2012 terima kasih atas bantuannya.
Ø Almamaterku tercinta Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang.
LEMBAR PERSETUJUAN
Proposal Tugas Akhir dengan judul “Pemberian Kompres Hangat dalam menguragi
odem pada tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M” telah Disetujui untuk Diujikan di
Depan Tim Penguji
Tanggal
Persetujuan: 20 Desember 2012
Oleh:
Pembimbing
I, Pembimbing
II,
Riki Ristanto, S.Kep., Ners Tien
Aminah, S.Kep,.Ners
Pns
II/d Nip 197411292005012004
Mengetahui,
Ketua Program Studi Keperawatan
Mustriwi,
S.Kep., Ners
Mayor
Ckm (K) NRP. 11960028590773
LEMBARAN
PENGESAHAN
Tugas Akhir dengan judul
“Pemberian
Kompres Hangat dalam menguragi odem pada tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M” telah Diujikan di
Depan Tim Penguji.
Pada tanggal 20
Desember 2012
TIM
PENGUJI
Nama
Tanda
tangan
Ketua : ………. ….…..
Anggota : 1.
…….. ……..
2. ……... ……..
Mengetahui,
Ketua Program Studi Keperawatan
Mustriwi, S. Kep., Ners
Mayor Ckm (K) NRP. 11960028590773
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Pemberian
Kompres Hangat dalam menguragi odem pada tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M” sesuai dengan waktu
yang ditentukan.
Laporan Tugas Akhir ini penulis
susun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Kadya
Keperawatan di Program Studi Keperawatan Poltekkes Rumkit Tk. II dr. Soepraoen
Malang.
Dalam penyusunan Tugas
Akhir ini, penulis mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai
pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima
kasih kepada yang terhormat :
1.
Kolonel
Ckm. dr. I Putu Gde Santika, M.Si, selaku Ka Rumkit Tk. II dr. Soepraoen
Malang.
2.
Letnan
Kolonel Ckm dr. Nirawan Putranto, Sp.M, selaku Direktur Poltekkes RS. dr.
Soepraoen Malang.
3.
Mayor
Ckm (K), Mustriwi, S.Kep.,Ners, selaku Ka Prodi Keperawatan.
4.
Ibu
Tien Aminah, S.Kep.,Ners, selaku pembimbing I dalam penelitian ini yang telah
banyak memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
5.
Bapak
Riki Ristanto, S.Kep.,Ners, selaku Pembimbing II dalam penelitian ini yang
telah memberikan bimbingan dan saran hingga terwujudnya Laporan Tugas Akhir
ini.
6.
Bapak
Arif Sudrajat, S.Kep.,Ners, selaku Kepala Ruang Melati yang telah menyediakan
waktu untuk membimbing dalam penyusunan.
7.
Para
responden yang telah ikut berpartisipasi dalam penelitian ini.
8.
Rekan-rekan
mahasiswa Prodi Keperawatan dan seluruh pihak yang telah membantu kelancaran
penelitian ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.
Penulis berusaha untuk
dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini, dengan sebaik-baiknya. Namun demikian
penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu demi
kesempurnaan, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak,
untuk menyempurnakannya.
Malang, 13
Desember 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
Cover
Dalam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
Lembar
Pernyataan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . iii
Halaman
Persembahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. iv
Lembar
Persetujuan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . v
Lembar
Pengesahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
.. vi
Kata
Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . vii
Daftar
Isi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ix
Daftar
Gambar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . x
Daftar
Tabel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xi
Abstrak.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .
1
1.2 Rumusan Masalah. .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . .
. .3
1.3.2 Tujuan Khusus. .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4
1.4 Manfaat Studi
Kasus. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4
1.5 Batasan Studi
Kasus. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
5
BAB
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Penyakit
Hipertensi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
2.2 Konsep Asuhan
Keperawatan Hipertensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25
2.3
Konsep Tindakan Keperawatan pada pasien Hipertensi. . . . . . . . . . . . . 36
2.4
Kerangka Konsep . . . . . . . . . .. . .
. . . . . .. . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . 38
BAB
3 METODE STUDI
3.1
Desain Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . 40
3.2
Kerangka Kerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . 41
3.3
Tempat dan Waktu Penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . .42
3.4
Subyek Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
42
3.5
Fokus Penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. 42
3.6
Metode Pengumpulan Data. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .42
3.7
Metode Uji Keabsahan Data. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
3.8
Metode Analisis Data. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
43
3.9
Etika penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . .43
3.10
Keterbatasan Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .44
DAFTAR
GAMBAR
Halaman
Gambar
2.1 Pathway Hipertensi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19
Gambar
2.2 Kerangka Teori Penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38
Gambar
3.4 Kerangka Kerja. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
41
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi menurut WHO . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . 7
Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7 . . . . . 8
Tabel
2.3 Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia . .
. .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . .. . . . .. . . .
. .. . . . . . . . . . .8
ABSTRAK
Vitria Wulandari Ravi, Leni.2012.
Pemberian
Kompres Hangat dalam menguragi odem pada
tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M. Tugas Akhir. Program
Studi Keperawatan Poltekkes RS. dr. Soepraoen Malang. Pembimbing I Tien Aminah,
SKep.,Ners, Pembimbing II Nunung Ernawati, SKep.,Ners.
Tonsil merupakan massa yang terdiri dari jaringan limfoid
dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus di dalamnya. Sedangkan
tonsilitis adalah peradangan yang terjadi pada daerah tonsil.Penyebab
tonsilitis adalah kuman Streptococcus Beta Hemolyticus, Streptococcus Viridins
dan Streptococcus Pyogenes adalah penyebab terbanyak. Dapat juga disebabkan
oleh virus. Selain itu juga tonsilitis disebabkan oleh organisme Vicenti. Ada beberapa
klasifikasi tonsil yaitu Tonsilitis Akut dan Tonsilitis Kronik yang masing – masing memiliki pengertian yang
berbeda. Pada tonsil akut sering di temukan
bersama–sama dan dapat menyerang semua umur. Penyebab terbanyak radang ini
adalah kuman golongan Streptococcus Beta Hemoliticus, Streptoccus Viridans,
Streptococcus Pyogenes. Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung
dan air ludah (droplet). Penyakit
ini juga bisa di sebabkan oleh virus.
Desain
penelitian ini menggunakan desain studi kasus. Subyek dalam penelitian ini adalah Ny. L
dengan disgnosa medis tonsil. Kriteria subyek adalah Ny. L yang menderita tonsil.
Fokus penelitian dalam studi kasus ini adalah pemberian kompres hangat dalam
mengurangi odem pada tonsil. Data penelitian ini
diambil dengan menggunakan wawancara mendalam (indepht interview).
Setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan content material analysis.
Hasil penelitian menunjukkan pengecilan
tonsil yang membesar akibat pemberian kompers hangat dengan campuran parutan
jahe dan ragi. Tonsil merupakan penyakit
yang dapat menyebabkan susah menelan karena tersumbatnya saluran makan. Infeksi
menular melalui kontak dari sekret hidung dan air ludah (droplet). Kata
Kunci : pemberian kompres hangat.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tonsil merupakan massa yang
terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus
di dalamnya. Sedangkan tonsilitis adalah peradangan yang terjadi pada daerah
tonsil.Penyebab tonsilitis adalah kuman Streptococcus Beta Hemolyticus,
Streptococcus Viridins dan Streptococcus Pyogenes adalah penyebab terbanyak.
Dapat juga disebabkan oleh virus. Selain itu juga tonsilitis disebabkan oleh
organisme Vicenti. Ada beberapa klasifikasi tonsil yaitu Tonsilitis Akut dan Tonsilitis Kronik yang masing – masing memiliki pengertian yang
berbeda. Pada tonsil akut sering di temukan
bersama–sama dan dapat menyerang semua umur. Penyebab terbanyak radang ini
adalah kuman golongan Streptococcus Beta Hemoliticus, Streptoccus Viridans,
Streptococcus Pyogenes. Infeksi
ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan air ludah ( droplet
).Penyakit ini juga bisa di sebabkan oleh virus.
Kompres hangat merupakan salah satu cara untuk bekerja
mengurangi odem pada
penderita tonsil, dengan menggunakan air hangat yang bercampurkan parutan jahe dan ragi
yang sudah dihaluskan. Ketika pemberian kompres hangat harus lebih banyak minum dan tidak menggunakan pakaian
yang terlalu tebal karena akan
menguragi kenyamanan klien yang menderita tonsil dan
tidak berjalan dengan baik. Cara ini akan mengurangi odem atau pembengkakan pada tonsil akut
maupun tonsil kronik.
Data morbiditas pada anak menurut Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 pola penyakit anak laki-laki dan perempuan
umur 5-14 tahun yang paling sering terjadi, Tonsilitis Kronis menempati urutan
kelima pada tahun
2009. Proporsi tertinggi penderita Tonsilitis Kronis terdapat pada kelompok
umur 36-47 tahun sebanyak 26,3% penderita, jenis kelamin perempuan sebanyak
52,7%, suku Batak sebanyak 67,5%, keluhan utama sangkut menelan sebanyak 42,5%,
ukuran tonsil T2/T2 sebanyak 33,8%, penatalaksanaa medikamentosa sebanyak
83,7%, sumber pendanaan dengan biaya pribadi sebanyak 38,8%. Ada perbedaan yang
bermakna antara umur (p=0,001) dan penatalaksanaan (p=0.000) berdasarkan ukuran
tonsil, tidak ada perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin (p=0,82), suku
(p=0,666), dan sumber pembiayaan berdasarkan ukuran tonsil (p=0,27).
Penderita tonsil sekarang semakin banyak di kalangan anak – anak mulai usia 5 sampai 7 tahun. Biasanya anak SD yang
banyak menderita tonsil atau sering di sebut amandel.Tonsil juga mereba pada
seluruh kalangan mulai dari anak – anak, remaja, dan dewasa.Ukuran
besarnya tonsil, T0
: bila sudah dioperasi;
T1
: ukuran yang normal ada;T2
: pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah; T3 : pembesaran mencapai garis
tengah; T4
: pembesaran melewati garis tengah. Ada
beberapa yang dapat disembuhkan dengan obat misalnya T2 dapat diatasi dengan
obat jalan tapi hanya 50% untuk memperkecil tonsil tersebut.Pada ukuran T3 juga
bisa diatasi dengan obat jalan tapi hanya 35% untuk memperkecil
tonsil.Kemungkinan kecil untuk menguragi odem tonsil pada ukuran T4 apabila
diberikan obat jalan, mungkin hanya 20% saja.Dengan adanya kompres hangat pada
penderita tonsil dapat mengecil. Tetapi apabila sudah mengecil dapat kambuh
kembali karena ada faktor lain yang dapat membengkakkan tonsil tersebut. Selain
virus dan bakteri faktor lain yaitu, debu,asap rokok,makanan berminyak, kelelahan, cuaca, buah-buahan.
Jaman
globalisasi seperti saat ini banyak makanan yang siap saji denngan beraneka
macam bentuk, warna, dan baunya.Semua itu yang sangat disukai semua kalangan
atau golongan, mulai muda hingga tua. Apalagi anak–anak suka makanan dan
jajanan yang warnanya mencolok dam menarik sehingga ia ingin membeli makanan
itu. Padahal banyak pengawet, zat pewarna buatan, dan formalinnya.Penyebab
tonsil membesar didasari oleh makanan ciki–ciki yang disukai anak–anak.Dan pada
akhirnya tonsil membesar, sulit untuk menelan, bernafas makanya terkadang orang
yang menderita tonsil ukuran T2 – T4 kalau tidur mulutnya membuka, daya imunnya
lemah dan makanannya harus dengan tekstur yang halus dan lumat agar dapat
menelan.
Berdasarkan uraian
diatas dapat disimpulkan
bahwa penderita tonsil akut dan
tonsil kronis
memerlukan tindakan yang khusus. Salah satu
tindakan yaitu kompres hangat dengan menggunakan air hangat yang bercampurkan parutan jahe dan ragi
yang sudah dihaluskan.Pemberian kompres
hangat juga belum
populer ditengah kalangan masyarakat jadi pentingpermasalahan ini
dijadikan bahan penelitian,karena itu di pandang perlu dilakukann penelitian dengan judul Pemberian Kompres Hangat dalam menguragi odem pada tonsil
yang membesar pada Ny.L di RS M.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah pengkajian pada klien Ny. L dengan odem pada tonsil ?
2. Apa sajakah diagnosa
keperawatan yang muncul pada klien Ny. L dengan odem pada tonsil?
3. Bagaimanakah intervensi
keperawatan pada klien Ny. L dengan odem pada tonsil?
4. Bagaimana tindakan keperawatan
yang dilakukan pada Ny. L dengan odem pada tonsil?
5. Bagaimanakah evaluasi
keperawatan terhadap Ny. L dengan odem pada tonsil?
6. Bagaimanakah pemberian komper
hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang membesar Ny .L?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Menyusun asuhan
keperawatan dan mengidentifikasi pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem
pada tonsil yang membesar pada Ny. L di
rumah sakit M.
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian
keperawatan pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
2. Merumuskan diagnose
keperawatan pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
3. Menyusun rencana tindakan
keperawatan(intervensi keperawatan) pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
4. Melaksanakan tindakan
keperawatan (implementasi keperawatan) pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
5. Melakukan evaluasi tindakan
keperawatan pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
6. Mengidentifikasi
pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang membesar Ny. L.
1.4
Manfaat
Penelitian
1.
Bagi
profesi keperawatan
Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam
mengembangkan asuhan keperawatan pada klien dengan odem tonsil yang membesar
dengan pemberian kompres hangat dalam upaya pengecilan odem
2.
Bagi peneliti yang akan datang
Hasil
penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan, khususnya
bagi ilmu keperawatan.
3.
Bagi
keluarga
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, memberikan informasi atau
gambaran dalam pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang
membesar.
4.
Bagi
institusi pendidikan
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi mahasiswa dan
institusi sebagai acuan penelitian lebih lanjut tentang pemberian kompres
hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang membesar.
1.5 Batasan
Studi Kasus
Studi kasus ini
memiliki masalah umum yang sangat luas dan kompleks.Agar pembahasan lebih
terarah studi kasus ini hanya membahas pemberian kompres hangat dalam
mengurangi odem pada tonsil yang membesar.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Tonsil
2.1.1
Pengertian
Tonsil merupakan
kumpulan besar jaringan limpoid di belakang faring yang memiliki keaktifan
munologik. Tonsil berfungsi mencegah agar infeksi menyebar keseluruh tubuh
dengan cara menahan kumanmemasuki tubuh melalui mulut, hidung dan tenggorokan,
oleh karena itu , tidak jarang tonsil mengalami peradangan. Tonsilitis adalah
infeksi atau peradangan pada tonsil. Tonsil akut merupakan tonsil yang sifatnya
akut, sedangkan tonsillitis kronik merupakan tonsillitis yang terjadi
berulangkali.
2.1.2
Jenis
1.
Tonsillitis akut
Tonsilitis
akut dengan gejala tonsil membengkak dan hiperemis permukaan nya yang diliputi
eksudat (nanah) berwarna putih kekuning- kuningan.
Dibagi
lagi menjadi 2, yaitu :
a.
Tonsilitis viral
Ini
lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok.
Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr.
b.
Tonsilitis Bakterial
Radang
akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang
dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus viridian dan
streptococcus piogenes. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang
mulai mati.
Dari kedua
Tonsilitis viral dan Tonsilitis Bakterial dapat meenimbulkan gejala
perkembangan lanjut tonsillitis akut yaitu :
Tonsilitis folikularis dengan gejala tonsil membengkak dan hiperemis dengan
permukaannya berbentuk bercak putih yang mengisi kripti tonsil yang disebut
detritus. Detritus ini terdiri dari leukosit, epitel yang terlepas akibat
peradangan, dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.
Infiltrat peritonsiler dengan gejala perkembangan lanjut dari tonsiitis akut.
Perkembangan ini sampai ke palatum mole (langit-langit), tonsil menjadi
terdorong ke tengah, rasa nyeri yang sangat hebat , air liur pun tidak bisa di
telan. Apabila dilakukan aspirasi (penyedotan dengan spuit/ suntikan) di tempat
pembengkakan di dekat palatum mole (langit- langit) akan keluar darah.
Abses peritonsil dengan gejala perkembangan lanjut dari infiltrat peritonsili.
Dan gejala klinis sama dengan infiltrat perintonsiler. Apabila dilakukan
aspirasi (penyedotan dengan spuit/ suntikan) di tempat pembengkakan di dekat
palatum mole (langit- langit) akan keluar NANAH.
2.
Tonsilitis membranosa
Tonsilitis
membranosa dengan gejala eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak
tersebut meluas menyerupai membran. Membran ini biasanya mudah diangkat atau di
buang dan berwarna putih kekuning- kuningan.Tonsilitis lakunaris dengan gejala
bercak yang berdekatan, bersatu dan mengisis lakuna (lekuk-lekuk) permukaan
tonsil.
a.
Tonsilitis Difteri
Penyebabnya
yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif
dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring.
b. Tonsilitis
Septik
Penyebab
streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga menimbulkan
epidemi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara
pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.
3.
Angina Plout Vincent
Penyebab
penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada
penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. Gejala
berupa demam sampai 39° C, nyeri kepala, badan lemah dan kadang gangguan
pecernaan.
a.
Tonsilitis kronik
Faktor
predisposisi timbulnya tonsilitis kronis ialah rangsangan yang menahun dari
rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca
kelemahan fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat kuman penyebabnya
sama dengantonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman
golongan gram negatif.
2.1.3
Etiologi
Tonsil di sebabkan oleh infeksi bakteri Streptococus beta hemolyticus Streptococcuc,viridans dan streptococcuc pyrogen sebagai
penyebab terbanyak, selain itu dapat juga disesbabkan oleh corybacterium diphteriae, namun dapat
juga disebabkan oleh virus(Mansyjoer, 2001).
2.1.4
Fungsi
Tonsil dan adenoid membentuk cincin jaringan limfe pada
pintu masuk saluran napas dan saluran pencernaan yang dikenal sebagai cincin
Waldeyer.Pada cincin Waldeyer, tonsil terdiri dari tiga jenis yaitu tonsil
lingualis berjumlah satu pasang yang terletak dibawah lidah, satu buah tonsil
adenoid yang terletak di belakang hidung, dan tonsil palatina yang terletak
disebelah kanan-kiri rongga mulut. Cincin Waldeyer ini mampu mengeluarkan
imunoglobulin jenis G, A, M , D , dan E.
Tonsil palatina atau yang sering kita sebut-sebut dengan
amandel memiliki imunoglobulin (Ig) A. Ig A ini merupakan enzim yang mampu
menghancurkan dinding sel kuman dengan proses biokimia, dan akhirnya kuman yang
masuk melalui mulut dapat dibasmi. Selain itu juga membentuk leukosit (sel
darah putih).
Karena cincin Waldeyer berfungsi sebagai kesatuan pada fase
aktif, pengangkatan atau pengambilan suatu bagian jaringan tersebut menyebabkan
hipertrofi (pembesaran) sisi jaringan yang lain.
2.1.5
Pathway
(Patologi)
|
|||
|
|
|
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
|
|
|
![]() |
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.2.1
Pengertian
Asuhan Keperawatan
merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang
diberikan secara langsung kepada klien/ pasien di berbagai tatanan pelayanan
kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah Keperawatan sebagai suatu
profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistic,dan
berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi
klien.
Menurut Ali (1997) Proses Keperawatan adalah metode Asuhan Keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien/klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah) Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi).
Menurut Ali (1997) Proses Keperawatan adalah metode Asuhan Keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien/klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah) Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi).
2.2.2
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian
keperawatan merupakan tahap awal dalam
proses keperawatan. Diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenal masalah
pasien, agar dapat member arahan kepada member arahan kepada tindakan
keperawatan. Dengan tujuan untuk
mengumpulkan untuk mengumpulkan informaasi dan membuat data dasar
pasien.
Aplikasi pengkajian
keperawatan
Dilaksanakan
tangal : Pengkajian dilaksanakan pada 3
hari setelah pasian masuk rumah sakit
Ruang
: Nama ruangan di rumah sakit
No
kamar/ TT : Nomer kamar yang berada di rungan tersebut
- Biodata
Nama : Nama pasien
Umur
: Umur pasien
Jenis
kelamin : Jenis kelamin pasien
Agama : Agama pasien
Alamat : Alamat pasien (tidak boleh alamat terang pasien)
Pendidikan : Pendidikan
terakhir pasien, apabila perawat menanyakan atau berkomunikasi dengan pasien
maka perawat menyesuaikan
Pekerjaan : Pekerjaan pasien
Status
: Status pasien
Tgl.
MRS :
Diagnosa :
Keluarga
yang mudah dihubungi
Nama :
Pekerjaan :
Alamat :
Hubungan
:
- Keluhan
a. Alasan
masuk rumah sakit :
b.
Keluhan saat pengkajian :
3. Riwayat
penyakit sekarang :
4. Riwayat
Penyakit Masa Lalu:
5. Riwayat
Kesehatan Keluarga:
6. Riwayat
Psiko sosial Spiritual
a.
Psikologis
b.
Sosial
c.
Spiritual
7. Pola aktivitas sehari-hari (di rumah
dan di rumah sakit).
No.
|
Kebiasaan
|
Di
Rumah
|
Di
Rumah Sakit
|
1.
|
Makan
|
.
|
|
2.
|
Minum
|
||
3.
|
Eliminasi BAB
|
||
4.
|
Eliminasi BAK
|
.
|
|
5.
|
Istirahat tidur
|
.
|
|
6.
|
Aktivitas / latihan olahraga dll
|
.
|
|
7
|
Kebiasaan personal hygiene
|
8. Pemeriksaan
Fisik
a) Keadaan
/ penampilan / kesan umum pasien :
GCS
(glasgow coma scale) 4-5-6
Eye
(respon membuka mata) : 4
(spontan)
Verbal
(respon verbal) : 5
(orientasi baik)
Motor
(respon motorik) : 6
(mengikuti perintah)
JACCOL
: jaundice ≠ , anemia ≠ , clubbing
finger ≠ , eyenosis ≠ , odema ≠ , limfe nodi ≠
b) Tanda-tanda
vital
TD : TB :
N : BB :
S :
RR :
TB – 100 150 – 100 50
c) Pemeriksaan
kepala dan leher
Kepala dan rambut :
Mata :
Hidung :
Telinga :
Mulut dan faring :
Leher :
a. Pemeriksaan
integumen kulit dan kuku:
b.
Pemeriksaan payudara dan ketiak:
c.
Pemeriksaan system pernafasaan
Inspeksi :
Auskustasi :
Palpasi :
Perkusi :
d.
Pemeriksaan system kardiovaskuler
Inspeksi
:
Palpasi :
Auskultasi
:
Perkusi
:
e. Pemeriksaan
abdomen ( IAPP), (sistem pencernaan)
Inspeksi
:
Auskultasi
:
Perkusi
:
Palpasi
:
f.
Pemeriksaan kelamin dan daerah
sekitarnyatidak ter
g.
Genetalia + anus =
h.
Pemeriksaan muskulo ( ekstrimitas)
Kekuatan
otot
4
4
4= mampu menahan, tetapi tidak bias
tahan-menahan.
i.
Pemeriksaan Neurologi
GCS
(Gaslow Coma Scale): 4-5-6
4=
spontan,
5=
orientsi baik
6=
mengikuti perintah
j.
Pemeriksaan Penunjang
*pemeriksaan
Laboratorium pada tanggal .
. . .
*Pemeriksaan
laboratrium pada tanggal . . .
ANALISA DATA
Nama Pasien :
Umur :
No. Registrasi :
No
|
Data
Penunjang
|
Masalah
|
Kemungkinan
Penyebab
|
2.2.3
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan
masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan
pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga,
menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien
Diagnosa pasien L adalah tonsil.
Diagnosa pasien L adalah tonsil.
(Carpenito, 2000; Gordon, 1976
& NANDA).
Aplikasi diagnosa keperawatan
RENCANA
ASUHAN KEPERAWATAN
Nama
Pasien :
Umur :
Dx
medis :
NO.DX
|
TUJUAN
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
2.2.4
Intervensi Keperawatan
(tindakan )
Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk
prilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus
dilakukan oleh perawat. Tindakan/intervensi keperawatan dipilih untuk membantu
pasien dalam mencapai hasil pasien yang diharapkan dan tujuan pemulangan.
Harapannya adalah bahwa prilaku dipreskripsikan akan menguntungkan pasien dan
keluarga dalam cara yang dapat diprediksi, yang berhubungan dengan masalah
diidentifikasikan dan tujuan yang telah dipilih. Intervensi ini mempunyai
maksud mengindividualkan perawatan dengan memenuhi kebutuhan spesifik pasien
serta harus menyertakan kekuatan-kekuatan pasien yang telah diidentifikasikan bila
memungkinkan.
Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas, dimulai dengan kata kerja aksi. Pengkualifikasi seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi dan besarnya memberikan isi dari aktifitas yang direncanakan. Misalnya, "Bantu aktivitas perawatan diri sesuai yang dibutuhkan setiap pagi."Catat frekuensi pernafasan dan nadi sebelum, selama, dan setelah aktifitas."Ukur masukan/haluaran setiap jam.''mendengar aktif kekhawatiran pasien mengenai diagnosa."
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2120652-definisi-tindakan-intervensi-keperawatan/#ixzz2EXlUB3gi
Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas, dimulai dengan kata kerja aksi. Pengkualifikasi seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi dan besarnya memberikan isi dari aktifitas yang direncanakan. Misalnya, "Bantu aktivitas perawatan diri sesuai yang dibutuhkan setiap pagi."Catat frekuensi pernafasan dan nadi sebelum, selama, dan setelah aktifitas."Ukur masukan/haluaran setiap jam.''mendengar aktif kekhawatiran pasien mengenai diagnosa."
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2120652-definisi-tindakan-intervensi-keperawatan/#ixzz2EXlUB3gi
Aplikasi intervensi keperawatan
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama Pasien :
Umur :
Dx medis :
NO.DX
|
TUJUAN
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
2.2.5
Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah melaksanakan apayang telah dirumuskan
dalam intervensi dan langkah-langkah dalam pelaksanaan, meliputi pelaksanaan
dan persiapan klien dalam menerima asuhan keperawatan. Perawat perlu
memperhatikan kemampuan dalam supervise komunikasi, motivasi kepemimpinan dalam
mengambil keputusan.
Pada langkah pelaksanaan
kegiatan, disamping perawat melaksanakan upaya mencapai tujuan, perawat juga
harusmemperhatikan aspek hukum dan etika berusaha mencegah kompikasi yang
timbul dalam asuhan keperawatan yang
diberikan.
Aplikasi implementasi keperawatan
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama
Pasien :
Umur :
Dx
Medis :
TANGGAL
|
JAM
|
DX
|
TINDAKAN KEPERAWATAN
|
TTD
|
2.2.6
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan kegiatan
yang disengaja dan terus menerus dengan melibatkan pasien dan anggota tim medis
lainnya. Evaluasi merupakan perbandingan sistematis dari rencana keperawatan pasien,
dengan tujuan yang telah dditetapkan dan dilakukan secara kesinambungan,
melibatkan pasien, perawat dan tim medis lainnya.
Adapun tujuan dari evaluasi
adalah untuk mengetahui apakah hasil yang diharapkan tercapai atau tidak dan
untuk mengetahui apakah timbul masalah baru setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
Aplikasi evaluasi keperawatan
EVALUASI
Nama
Pasien :
Umur :
Dx
Medis :
No.Dx
|
Tanggal
|
EVALUASI
|
TTD
|
1.
|
|||
2.
|
|||
1.
|
|||
2
|
2.3 Konsep Dasar Pemberian Kompres
Hangat
2.3.1
Pengertian
Kompres hangat merupakan salah satu cara untuk bekerja
mengurangi odem pada
penderita tonsil, dengan menggunakan air hangat yang bercampurkan parutan jahe dan ragi
yang sudah dihaluskan. Ketika pemberian kompres hangat harus lebih banyak minum dan tidak menggunakan pakaian
yang terlalu tebal karena akan
menguragi kenyamanan klien yang menderita tonsil dan
tidak berjalan dengan baik. Cara ini akan mengurangi odem atau pembengkakan pada tonsil akut
maupun tonsil kronik.
2.3.2
Fungsi
2.3.3
Cara Pemberian Kompres Hangat
Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari, dan
umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Untuk perawatan dan
pengobatannya dilakukan beberapa langkah sebagai berikut : - Diusahakan untuk
minum banyak air atau cairan sepertisari buah, terutama selama demam. - Jangan
minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan,
makanan awetan yang diasinkan, dan manisan. - Berkumur air garam hangat 3-4
kali sehari. - Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari. - diberikan
terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk
mencegah komplikasi.
Berikut ini beberapa contoh ramuan tumbuhan obat
yang dapat digunakan untuk radang amandel (tonsilitis) : - Bubuk sambiloto
sebanyak 3 - 4,5 gram diseduh dengan 200 cc air panas, tambahkan 1 sendok makan
madu, diaduk, lalu diminum hangat-hangat. Atau 30 gram sambiloto segar/15 gram
yang kering, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya
ditambahkan 200 cc jus buah nanas, diaduk, lalu diminum untuk 3 kali sehari,
setiap kali minum 200 cc. (untuk tonsilitis akut) - 2 buah mengkudu/pace matang
+ 20 gram kunyit, dicuci dan dihaluskan, disaring dan diambil airnya, tambahkan
air perasan 1 buah jeruknipis, dan 1 sendok makan madu, diaduk, lalu diminum.
Lakukan 2-3 kali sehari. (untuk tonsilitis akut). - 30 gram benalu jeruk nipis
atau benalu teh + 30 gram temu putih + 10 gram sambiloto kering + 20 gram
kunyit, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya
diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc. (Untuk tonsilitis
kronis dengan pembesaran tonsil yang agak besar). - 10 lembar daun cocor bebek
dihaluskan atau dijus, airnya digunakan untuk berkumur di tenggorokan. Lakukan
2-3 kali sehari. - 30-60 gram akar kembang pukul empat dijus, airnya digunakan
untuk berkumur di tenggorokan, lalu ditelan. Lakukan 2 kali sehari.
2.3.4
Cara mengobati amandel
Sakit Amandel biasanya menyerang pada anak-anak, tapi orang dewasa
juga ada kemungkinan terkena penyakit amandel. Jika tidak segera diobati
dan di tangani secara serius sakit amandel akan bisa membengkak dan bagi
penderita nya susah untuk bernafasbahkan untuk menelan makanan pun akan
terasa susah. Sakit Amandel atau bahasa ilmiah nya tonsil merupakan
kumpulan jaringan limfoid yang terletak pada kerongkongan di belakang kedua
ujung lipatan belakang mulut. Fungsi dari Amandel itu sendiri adalah untuk
mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan kuman
memasuki tubuh. Oleh karena itu kelenjar amandel ini meradang. Peradangan pada
Kelenjar amandel ini disebut dengan tonsilitis, penyakit ini merupakan salah
satu gangguan THT (Telinga Hidung & Tenggorokan). Tonsilitis dapat bersifat
akut atau kronis. Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6
hari, dan umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Sedangkan radang
amandel/tonsil yang kronis terjadi secara berulang-ulang dan berlangsung lama.
Cara Mengobati Amandel dengan Obat Tradisional
Cara
mengobati amandel dengan Buah Mengkudu untuk mengobati amandel Bahan:
2Buah mengkudu
Madu murni secukupnya.
2Buah mengkudu
Madu murni secukupnya.
Cara membuat ramuan
tradisional dengan buah Mengkudu untuk mengobati amandel : Buah mengkudu
diperas, disaring dan ditambah sedikit air panas. Air perasan dimasukkanke
dalam gelas lalu dicampur dengan madu, aduk sampai rata
1. Cara pemakaian obat tradisional
alami dengan buah mengkudu : Diminum 3 kali sehari. Caranya minum dipakai
berkumur lebih dahulu selama beberapa menit kemudian baru ditelan
2. Cara mengobati amandel dengan Jeruk
Nipis untuk mengobati amandel
Bahan : Jeruk nipis 3 buah,
diperas kemudian diambil airnya lalu diberi sedikit kapur sirih diaduk rata.
Cara pemakaian obat
tradisional alami dengan Jeruk Nipis untuk mengobati amandel : Diminum
menjelang tidur malam selama 3 hari berturut-turut
3. Ramuan Tradisional untuk menyembuhkanpenyakit Amandel dengan Kulit
Manggis
Bahan : Kulit manggis kering 15 gram dan
minyak permen 2 sendok teh
Cara
pemakaian obat tradisional alami dengan Jeruk Nipis untuk mengobati
amandel : Kulit manggis direbus dengan 2 botol air sampai mendidih dan
tinggal 1 botol. Sesudah itu teteskan minyak permen dan diaduk
rata. Gunakan ramuan ini berkumur selama beberapa kali dalam sehari
2.3.5
Cara
Pencegahan
Cara mencegah penyakit amandel
sebagai pencegahan agar terhindar dari penyakit amandel :
Beberapa upaya yang dapat kita lakukan sendiri dirumah untuk
pencegahan, perawatan dan pengobatannya dilakukan beberapa langkah sebagai
berikut :
1.
Diusahakan untuk minum
banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
Jangan
minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan,
makanan awetan
2.
yang diasinkan, dan manisan.
3.
Berkumur air garam hangat
3-4 kali sehari.
4.
Menaruh kompres hangat pada
leher setiap hari.
5.
Diberikan terapi antibiotik
(atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah
komplikasi.
- Istirahat yang cukup.
2.4 
|
|
Kerangka Konsep
|
|
![]() |

BAB 3
METODE
STUDI
3.1 Desain
Penelitian
Desain
penelitian merupakananalitik observasional, yaitu penelitianyang mencoba
menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi(Notoatmodjo, 2005). Penelitian ini menggunakan
analitik korelasi merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah
satu teknik pengukuran asosiasi atau hubungan
(meansures of association).Desain penelitian yang dipakai dalam
penelitian ini adalah studi kasus.
3.2 Kerangka
Kerja
Kerangka
kerja merupakanMenurut Nursalam (2003), kerangka kerja adalah tahapan dalam
suatu penelitian yang menyajikan alur penelitian, terutama variabel yang akan
digunakan. Kerangka kerja dalam penelitian dijelaskan dalam diagram.
![]() |
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini akan dilaksanakan di Rumah Sakit M
pada tanggal 20
Januari 2013.
3.4 Subyek Penelitian
Subyek
penelitian merupakan subjek yang
diikutsertakan (misalnya manusia) yang memenuhikriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008).Subyek dalam penelitian ini adalah Ny. L
dengan disgnosa medis tonsil di RS. M
3.5 Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan batasan yang
dapat dijangkau dalam melakukan penelitian.Fokus penelitian dalam studi kasus
ini adalah pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem pada tonsil.
3.6 Metode Pengumpulan Data
1. Proses Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan
penelitian untuk melakukan pengumpulan data yang akan digunakan untuk
penelitian. (Aziz, 2003 : 38).
Pengumpulan data dilakukan oleh
peneliti setelah mendapat ijin melakukan penelitian dari institusi pendidikan,
kemudian peneliti mengadakan pendekatan kepada responden untuk mendapatkan
persetujuan menjadi responden. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data
yang digunakan dengan wawancara dan observasi.
2. Instrumen Penelitian
Instrument adalah alat yang digunakan
untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2002). Pada penelitian instrument
yang digunakan adalah wawancara dengan 15 pertanyaan.
3.7 Metode Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data
merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep
kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) menurut versi “positivisme”
dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan, kriteria dan paradigmanya sendiri. Mula-mula hal itu harus
dilihat dari segi kriteria yang digunakan oleh nonkualitatif. Istilah yang
digunakan antara lain adalah “validitas
internal, validitas eksternal dan reliabilitas”.
Jelaskan uji keabsahan data yang digunakan
menggunakan
3.8 Metode Analisa Data
Analisa
data merupakan suatu kegiatan untuk meneliti, memeriksa mempelajari, membandingkan data yang ada dan membuat interpretasi
yang diperlukan. Selain itu, analisa data dapat digunakan untuk
mengidentifikasi ada tidaknya masalah. Kalau ada masalah tersebut harus
dirumuskan dengan jelas dan benar. Teknik analisis yang
digunakan adalah analisis deskriptif yang memberikan gambaran dengan jelas dan
benar. Teknis analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang
memberikan gambaran dengan jelas makna dari indikator-indikator yang ada,
membandingkan dan menghubungkan antara indikator yang satu dengan indikator
lain.
Kegunaan
analisis data adalah sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan,
perencanaan, pemantauan, pengawasan, penyusunan laporan, penyusunan statistik
pendidikan, penyusunan program rutin dan pembangunan, peningkatan program
pendidikan, dan pembinaan. http://pakguruonline.pendidikan.net/datordik_6.html
3.9
Etika Penelitian
Sebelum
melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan kepada institusi Prodi
Keperawatan Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang untuk mendapatkan
persetujuan. Setelah itu baru melakukan penelitian pada responden dengan
menekankan pada masalah etika yang meliputi :
3.9.1
Informed
Consent (persetujuan)
Informed Consent
diberikan sebelum penelitian dilakukan pada subjek penelitian. Subjek diberi
tahu tentang maksud dan tujuan penelitian. Jika subjek bersedia responden
menandatangani lembar persetujuan.
3.9.2
Anonimity
(Tanpa nama)
Responden tidak perlu mencantumkan namanya pada lembar
pengumpulan data. Cukup menulis
nomor responden atau inisial saja untuk menjamin kerahasiaan identitas.
3.9.3
Confidentiality
(Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang diperoleh dari responden akan
dijamin kerahasiaan oleh peneliti. Penlajian data atau hasil penelitian hanya
ditampilkan pada forum Akademis.
3.10 Keterbatasan
1. Alat
ukur atau instrument
Pada penelitian ini alat ukur atau
instrument yang digunakan adalah wawancara dan observasi sehingga memungkinkan
responden menajwab pertanyaan dengan lebih dipengaruhi oleh sikap dan
harapan-harapan pribadi yang bersifat subjektif sehPROPOSAL
TUGAS AKHIR
PEMBERIAN KOMPRES HANGAT DALAM MENGURAGI ODEM PADA
TONSIL YANG MEMBESAR
PADA NY. L DI RS M

Disusun oleh:
LENI VITRIA
WULANDARI RAVI
NIM.
12.1.091
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN RS. Dr. SOEPRAOEN MALANG TAHUN AKADEMIK
2012/2013
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
PEMBERIAN KOMPRES HANGAT DALAM MENGURAGI ODEM PADA TONSIL YANG MEMBESAR
PADA NY. L DI RS M
Diajukan Sebagai
Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Ahli Madya
Keperawatan Pada Prodi Keperawatan
Politeknik
Kesehatan RS. Dr. Soepraoen
Malang

Disusun
Oleh:
LENI VITRIA WULANDARI RAVI
NIM. 12.1.091
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN RS. Dr. SOEPRAOEN MALANG
TAHUN AKADEMIK 2012/2013
LEMBAR
PERNYATAAN
Yang
bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Leni Vitria Wulandari Ravi
Tempat/tanggal
lahir : Lumajang, 14 Maret 1994
NIM
: 12.1.091
Alamat : Jalan PB. Sudirman GG.10 No. 17 Lumajang
Menyatakan
dan bersumpah bahwa Studi Kasus ini adalah hasil karya sendiri dan belum pernah
dikumpulkan oleh orang lain untuk memperoleh gelar dari berbagai jenjang
pendidikan di perguruan tinggi manapun.
Jika
dikemudian hari ternyata saya terbukti melakukan pelanggaran atas pernyataan
dan sumpah tersebut diatas, maka bersedia menerima sanksi akademik dari
almamater.
Malang,
20
Desember 2012
Yang Menyatakan
Leni Vitria Wulandari Ravi
NIM
12.1.091
HALAMAN
PERSEMBAHAN
![]() |
Kupersembahkan
Karya Tulis yang Sederhana ini kepada :
Ø Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan petunjuk jalan
serta keimanan dalam setiap langkahku.
Ø Kedua orang tuaku yang selalu mendidik dan membimbing aku
dari kecil sampai dewasa dan selalu mendoakan aku.
Ø Seluruh keluargaku yang selalu berada disampingku disaat
aku sedang butuh mereka dan disaat aku sedang sedih.
Ø Sahabat-sahabatku yang
selalu menemaniku dalam suka dan duka.
Ø Teman-temanku
angkatan 2011/2012 terima kasih atas bantuannya.
Ø Almamaterku tercinta Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang.
LEMBAR PERSETUJUAN
Proposal Tugas Akhir dengan judul “Pemberian Kompres Hangat dalam menguragi
odem pada tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M” telah Disetujui untuk Diujikan di
Depan Tim Penguji
Tanggal
Persetujuan: 20 Desember 2012
Oleh:
Pembimbing
I, Pembimbing
II,
Riki Ristanto, S.Kep., Ners Tien
Aminah, S.Kep,.Ners
Pns
II/d Nip 197411292005012004
Mengetahui,
Ketua Program Studi Keperawatan
Mustriwi,
S.Kep., Ners
Mayor
Ckm (K) NRP. 11960028590773
LEMBARAN
PENGESAHAN
Tugas Akhir dengan judul
“Pemberian
Kompres Hangat dalam menguragi odem pada tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M” telah Diujikan di
Depan Tim Penguji.
Pada tanggal 20
Desember 2012
TIM
PENGUJI
Nama
Tanda
tangan
Ketua : ………. ….…..
Anggota : 1.
…….. ……..
2. ……... ……..
Mengetahui,
Ketua Program Studi Keperawatan
Mustriwi, S. Kep., Ners
Mayor Ckm (K) NRP. 11960028590773
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Pemberian
Kompres Hangat dalam menguragi odem pada tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M” sesuai dengan waktu
yang ditentukan.
Laporan Tugas Akhir ini penulis
susun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Kadya
Keperawatan di Program Studi Keperawatan Poltekkes Rumkit Tk. II dr. Soepraoen
Malang.
Dalam penyusunan Tugas
Akhir ini, penulis mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai
pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima
kasih kepada yang terhormat :
1.
Kolonel
Ckm. dr. I Putu Gde Santika, M.Si, selaku Ka Rumkit Tk. II dr. Soepraoen
Malang.
2.
Letnan
Kolonel Ckm dr. Nirawan Putranto, Sp.M, selaku Direktur Poltekkes RS. dr.
Soepraoen Malang.
3.
Mayor
Ckm (K), Mustriwi, S.Kep.,Ners, selaku Ka Prodi Keperawatan.
4.
Ibu
Tien Aminah, S.Kep.,Ners, selaku pembimbing I dalam penelitian ini yang telah
banyak memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
5.
Bapak
Riki Ristanto, S.Kep.,Ners, selaku Pembimbing II dalam penelitian ini yang
telah memberikan bimbingan dan saran hingga terwujudnya Laporan Tugas Akhir
ini.
6.
Bapak
Arif Sudrajat, S.Kep.,Ners, selaku Kepala Ruang Melati yang telah menyediakan
waktu untuk membimbing dalam penyusunan.
7.
Para
responden yang telah ikut berpartisipasi dalam penelitian ini.
8.
Rekan-rekan
mahasiswa Prodi Keperawatan dan seluruh pihak yang telah membantu kelancaran
penelitian ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.
Penulis berusaha untuk
dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini, dengan sebaik-baiknya. Namun demikian
penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu demi
kesempurnaan, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak,
untuk menyempurnakannya.
Malang, 13
Desember 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
Cover
Dalam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
Lembar
Pernyataan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . iii
Halaman
Persembahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. iv
Lembar
Persetujuan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . v
Lembar
Pengesahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
.. vi
Kata
Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . vii
Daftar
Isi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ix
Daftar
Gambar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . x
Daftar
Tabel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xi
Abstrak.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .
1
1.2 Rumusan Masalah. .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . .
. .3
1.3.2 Tujuan Khusus. .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4
1.4 Manfaat Studi
Kasus. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4
1.5 Batasan Studi
Kasus. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
5
BAB
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Penyakit
Hipertensi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
2.2 Konsep Asuhan
Keperawatan Hipertensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25
2.3
Konsep Tindakan Keperawatan pada pasien Hipertensi. . . . . . . . . . . . . 36
2.4
Kerangka Konsep . . . . . . . . . .. . .
. . . . . .. . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . 38
BAB
3 METODE STUDI
3.1
Desain Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . 40
3.2
Kerangka Kerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . 41
3.3
Tempat dan Waktu Penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . .42
3.4
Subyek Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
42
3.5
Fokus Penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. 42
3.6
Metode Pengumpulan Data. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .42
3.7
Metode Uji Keabsahan Data. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
3.8
Metode Analisis Data. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
43
3.9
Etika penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . .43
3.10
Keterbatasan Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .44
DAFTAR
GAMBAR
Halaman
Gambar
2.1 Pathway Hipertensi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19
Gambar
2.2 Kerangka Teori Penelitian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38
Gambar
3.4 Kerangka Kerja. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
41
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi menurut WHO . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . 7
Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7 . . . . . 8
Tabel
2.3 Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia . .
. .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . .. . . . .. . . .
. .. . . . . . . . . . .8
ABSTRAK
Vitria Wulandari Ravi, Leni.2012.
Pemberian
Kompres Hangat dalam menguragi odem pada
tonsil yang membesar pada Ny. L di RS M. Tugas Akhir. Program
Studi Keperawatan Poltekkes RS. dr. Soepraoen Malang. Pembimbing I Tien Aminah,
SKep.,Ners, Pembimbing II Nunung Ernawati, SKep.,Ners.
Tonsil merupakan massa yang terdiri dari jaringan limfoid
dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus di dalamnya. Sedangkan
tonsilitis adalah peradangan yang terjadi pada daerah tonsil.Penyebab
tonsilitis adalah kuman Streptococcus Beta Hemolyticus, Streptococcus Viridins
dan Streptococcus Pyogenes adalah penyebab terbanyak. Dapat juga disebabkan
oleh virus. Selain itu juga tonsilitis disebabkan oleh organisme Vicenti. Ada beberapa
klasifikasi tonsil yaitu Tonsilitis Akut dan Tonsilitis Kronik yang masing – masing memiliki pengertian yang
berbeda. Pada tonsil akut sering di temukan
bersama–sama dan dapat menyerang semua umur. Penyebab terbanyak radang ini
adalah kuman golongan Streptococcus Beta Hemoliticus, Streptoccus Viridans,
Streptococcus Pyogenes. Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung
dan air ludah (droplet). Penyakit
ini juga bisa di sebabkan oleh virus.
Desain
penelitian ini menggunakan desain studi kasus. Subyek dalam penelitian ini adalah Ny. L
dengan disgnosa medis tonsil. Kriteria subyek adalah Ny. L yang menderita tonsil.
Fokus penelitian dalam studi kasus ini adalah pemberian kompres hangat dalam
mengurangi odem pada tonsil. Data penelitian ini
diambil dengan menggunakan wawancara mendalam (indepht interview).
Setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan content material analysis.
Hasil penelitian menunjukkan pengecilan
tonsil yang membesar akibat pemberian kompers hangat dengan campuran parutan
jahe dan ragi. Tonsil merupakan penyakit
yang dapat menyebabkan susah menelan karena tersumbatnya saluran makan. Infeksi
menular melalui kontak dari sekret hidung dan air ludah (droplet). Kata
Kunci : pemberian kompres hangat.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tonsil merupakan massa yang
terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus
di dalamnya. Sedangkan tonsilitis adalah peradangan yang terjadi pada daerah
tonsil.Penyebab tonsilitis adalah kuman Streptococcus Beta Hemolyticus,
Streptococcus Viridins dan Streptococcus Pyogenes adalah penyebab terbanyak.
Dapat juga disebabkan oleh virus. Selain itu juga tonsilitis disebabkan oleh
organisme Vicenti. Ada beberapa klasifikasi tonsil yaitu Tonsilitis Akut dan Tonsilitis Kronik yang masing – masing memiliki pengertian yang
berbeda. Pada tonsil akut sering di temukan
bersama–sama dan dapat menyerang semua umur. Penyebab terbanyak radang ini
adalah kuman golongan Streptococcus Beta Hemoliticus, Streptoccus Viridans,
Streptococcus Pyogenes. Infeksi
ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan air ludah ( droplet
).Penyakit ini juga bisa di sebabkan oleh virus.
Kompres hangat merupakan salah satu cara untuk bekerja
mengurangi odem pada
penderita tonsil, dengan menggunakan air hangat yang bercampurkan parutan jahe dan ragi
yang sudah dihaluskan. Ketika pemberian kompres hangat harus lebih banyak minum dan tidak menggunakan pakaian
yang terlalu tebal karena akan
menguragi kenyamanan klien yang menderita tonsil dan
tidak berjalan dengan baik. Cara ini akan mengurangi odem atau pembengkakan pada tonsil akut
maupun tonsil kronik.
Data morbiditas pada anak menurut Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 pola penyakit anak laki-laki dan perempuan
umur 5-14 tahun yang paling sering terjadi, Tonsilitis Kronis menempati urutan
kelima pada tahun
2009. Proporsi tertinggi penderita Tonsilitis Kronis terdapat pada kelompok
umur 36-47 tahun sebanyak 26,3% penderita, jenis kelamin perempuan sebanyak
52,7%, suku Batak sebanyak 67,5%, keluhan utama sangkut menelan sebanyak 42,5%,
ukuran tonsil T2/T2 sebanyak 33,8%, penatalaksanaa medikamentosa sebanyak
83,7%, sumber pendanaan dengan biaya pribadi sebanyak 38,8%. Ada perbedaan yang
bermakna antara umur (p=0,001) dan penatalaksanaan (p=0.000) berdasarkan ukuran
tonsil, tidak ada perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin (p=0,82), suku
(p=0,666), dan sumber pembiayaan berdasarkan ukuran tonsil (p=0,27).
Penderita tonsil sekarang semakin banyak di kalangan anak – anak mulai usia 5 sampai 7 tahun. Biasanya anak SD yang
banyak menderita tonsil atau sering di sebut amandel.Tonsil juga mereba pada
seluruh kalangan mulai dari anak – anak, remaja, dan dewasa.Ukuran
besarnya tonsil, T0
: bila sudah dioperasi;
T1
: ukuran yang normal ada;T2
: pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah; T3 : pembesaran mencapai garis
tengah; T4
: pembesaran melewati garis tengah. Ada
beberapa yang dapat disembuhkan dengan obat misalnya T2 dapat diatasi dengan
obat jalan tapi hanya 50% untuk memperkecil tonsil tersebut.Pada ukuran T3 juga
bisa diatasi dengan obat jalan tapi hanya 35% untuk memperkecil
tonsil.Kemungkinan kecil untuk menguragi odem tonsil pada ukuran T4 apabila
diberikan obat jalan, mungkin hanya 20% saja.Dengan adanya kompres hangat pada
penderita tonsil dapat mengecil. Tetapi apabila sudah mengecil dapat kambuh
kembali karena ada faktor lain yang dapat membengkakkan tonsil tersebut. Selain
virus dan bakteri faktor lain yaitu, debu,asap rokok,makanan berminyak, kelelahan, cuaca, buah-buahan.
Jaman
globalisasi seperti saat ini banyak makanan yang siap saji denngan beraneka
macam bentuk, warna, dan baunya.Semua itu yang sangat disukai semua kalangan
atau golongan, mulai muda hingga tua. Apalagi anak–anak suka makanan dan
jajanan yang warnanya mencolok dam menarik sehingga ia ingin membeli makanan
itu. Padahal banyak pengawet, zat pewarna buatan, dan formalinnya.Penyebab
tonsil membesar didasari oleh makanan ciki–ciki yang disukai anak–anak.Dan pada
akhirnya tonsil membesar, sulit untuk menelan, bernafas makanya terkadang orang
yang menderita tonsil ukuran T2 – T4 kalau tidur mulutnya membuka, daya imunnya
lemah dan makanannya harus dengan tekstur yang halus dan lumat agar dapat
menelan.
Berdasarkan uraian
diatas dapat disimpulkan
bahwa penderita tonsil akut dan
tonsil kronis
memerlukan tindakan yang khusus. Salah satu
tindakan yaitu kompres hangat dengan menggunakan air hangat yang bercampurkan parutan jahe dan ragi
yang sudah dihaluskan.Pemberian kompres
hangat juga belum
populer ditengah kalangan masyarakat jadi pentingpermasalahan ini
dijadikan bahan penelitian,karena itu di pandang perlu dilakukann penelitian dengan judul Pemberian Kompres Hangat dalam menguragi odem pada tonsil
yang membesar pada Ny.L di RS M.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah pengkajian pada klien Ny. L dengan odem pada tonsil ?
2. Apa sajakah diagnosa
keperawatan yang muncul pada klien Ny. L dengan odem pada tonsil?
3. Bagaimanakah intervensi
keperawatan pada klien Ny. L dengan odem pada tonsil?
4. Bagaimana tindakan keperawatan
yang dilakukan pada Ny. L dengan odem pada tonsil?
5. Bagaimanakah evaluasi
keperawatan terhadap Ny. L dengan odem pada tonsil?
6. Bagaimanakah pemberian komper
hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang membesar Ny .L?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Menyusun asuhan
keperawatan dan mengidentifikasi pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem
pada tonsil yang membesar pada Ny. L di
rumah sakit M.
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian
keperawatan pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
2. Merumuskan diagnose
keperawatan pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
3. Menyusun rencana tindakan
keperawatan(intervensi keperawatan) pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
4. Melaksanakan tindakan
keperawatan (implementasi keperawatan) pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
5. Melakukan evaluasi tindakan
keperawatan pada Ny. L dengan odem pada tonsil.
6. Mengidentifikasi
pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang membesar Ny. L.
1.4
Manfaat
Penelitian
1.
Bagi
profesi keperawatan
Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam
mengembangkan asuhan keperawatan pada klien dengan odem tonsil yang membesar
dengan pemberian kompres hangat dalam upaya pengecilan odem
2.
Bagi peneliti yang akan datang
Hasil
penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan, khususnya
bagi ilmu keperawatan.
3.
Bagi
keluarga
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, memberikan informasi atau
gambaran dalam pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang
membesar.
4.
Bagi
institusi pendidikan
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi mahasiswa dan
institusi sebagai acuan penelitian lebih lanjut tentang pemberian kompres
hangat dalam mengurangi odem pada tonsil yang membesar.
1.5 Batasan
Studi Kasus
Studi kasus ini
memiliki masalah umum yang sangat luas dan kompleks.Agar pembahasan lebih
terarah studi kasus ini hanya membahas pemberian kompres hangat dalam
mengurangi odem pada tonsil yang membesar.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Tonsil
2.1.1
Pengertian
Tonsil merupakan
kumpulan besar jaringan limpoid di belakang faring yang memiliki keaktifan
munologik. Tonsil berfungsi mencegah agar infeksi menyebar keseluruh tubuh
dengan cara menahan kumanmemasuki tubuh melalui mulut, hidung dan tenggorokan,
oleh karena itu , tidak jarang tonsil mengalami peradangan. Tonsilitis adalah
infeksi atau peradangan pada tonsil. Tonsil akut merupakan tonsil yang sifatnya
akut, sedangkan tonsillitis kronik merupakan tonsillitis yang terjadi
berulangkali.
2.1.2
Jenis
1.
Tonsillitis akut
Tonsilitis
akut dengan gejala tonsil membengkak dan hiperemis permukaan nya yang diliputi
eksudat (nanah) berwarna putih kekuning- kuningan.
Dibagi
lagi menjadi 2, yaitu :
a.
Tonsilitis viral
Ini
lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok.
Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr.
b.
Tonsilitis Bakterial
Radang
akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang
dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus viridian dan
streptococcus piogenes. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang
mulai mati.
Dari kedua
Tonsilitis viral dan Tonsilitis Bakterial dapat meenimbulkan gejala
perkembangan lanjut tonsillitis akut yaitu :
Tonsilitis folikularis dengan gejala tonsil membengkak dan hiperemis dengan
permukaannya berbentuk bercak putih yang mengisi kripti tonsil yang disebut
detritus. Detritus ini terdiri dari leukosit, epitel yang terlepas akibat
peradangan, dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.
Infiltrat peritonsiler dengan gejala perkembangan lanjut dari tonsiitis akut.
Perkembangan ini sampai ke palatum mole (langit-langit), tonsil menjadi
terdorong ke tengah, rasa nyeri yang sangat hebat , air liur pun tidak bisa di
telan. Apabila dilakukan aspirasi (penyedotan dengan spuit/ suntikan) di tempat
pembengkakan di dekat palatum mole (langit- langit) akan keluar darah.
Abses peritonsil dengan gejala perkembangan lanjut dari infiltrat peritonsili.
Dan gejala klinis sama dengan infiltrat perintonsiler. Apabila dilakukan
aspirasi (penyedotan dengan spuit/ suntikan) di tempat pembengkakan di dekat
palatum mole (langit- langit) akan keluar NANAH.
2.
Tonsilitis membranosa
Tonsilitis
membranosa dengan gejala eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak
tersebut meluas menyerupai membran. Membran ini biasanya mudah diangkat atau di
buang dan berwarna putih kekuning- kuningan.Tonsilitis lakunaris dengan gejala
bercak yang berdekatan, bersatu dan mengisis lakuna (lekuk-lekuk) permukaan
tonsil.
a.
Tonsilitis Difteri
Penyebabnya
yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif
dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring.
b. Tonsilitis
Septik
Penyebab
streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga menimbulkan
epidemi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara
pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.
3.
Angina Plout Vincent
Penyebab
penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada
penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. Gejala
berupa demam sampai 39° C, nyeri kepala, badan lemah dan kadang gangguan
pecernaan.
a.
Tonsilitis kronik
Faktor
predisposisi timbulnya tonsilitis kronis ialah rangsangan yang menahun dari
rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca
kelemahan fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat kuman penyebabnya
sama dengantonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman
golongan gram negatif.
2.1.3
Etiologi
Tonsil di sebabkan oleh infeksi bakteri Streptococus beta hemolyticus Streptococcuc,viridans dan streptococcuc pyrogen sebagai
penyebab terbanyak, selain itu dapat juga disesbabkan oleh corybacterium diphteriae, namun dapat
juga disebabkan oleh virus(Mansyjoer, 2001).
2.1.4
Fungsi
Tonsil dan adenoid membentuk cincin jaringan limfe pada
pintu masuk saluran napas dan saluran pencernaan yang dikenal sebagai cincin
Waldeyer.Pada cincin Waldeyer, tonsil terdiri dari tiga jenis yaitu tonsil
lingualis berjumlah satu pasang yang terletak dibawah lidah, satu buah tonsil
adenoid yang terletak di belakang hidung, dan tonsil palatina yang terletak
disebelah kanan-kiri rongga mulut. Cincin Waldeyer ini mampu mengeluarkan
imunoglobulin jenis G, A, M , D , dan E.
Tonsil palatina atau yang sering kita sebut-sebut dengan
amandel memiliki imunoglobulin (Ig) A. Ig A ini merupakan enzim yang mampu
menghancurkan dinding sel kuman dengan proses biokimia, dan akhirnya kuman yang
masuk melalui mulut dapat dibasmi. Selain itu juga membentuk leukosit (sel
darah putih).
Karena cincin Waldeyer berfungsi sebagai kesatuan pada fase
aktif, pengangkatan atau pengambilan suatu bagian jaringan tersebut menyebabkan
hipertrofi (pembesaran) sisi jaringan yang lain.
2.1.5
Pathway
(Patologi)
|
|||
|
|
|
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
|
|
|
![]() |
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.2.1
Pengertian
Asuhan Keperawatan
merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang
diberikan secara langsung kepada klien/ pasien di berbagai tatanan pelayanan
kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah Keperawatan sebagai suatu
profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistic,dan
berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi
klien.
Menurut Ali (1997) Proses Keperawatan adalah metode Asuhan Keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien/klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah) Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi).
Menurut Ali (1997) Proses Keperawatan adalah metode Asuhan Keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien/klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah) Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi).
2.2.2
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian
keperawatan merupakan tahap awal dalam
proses keperawatan. Diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenal masalah
pasien, agar dapat member arahan kepada member arahan kepada tindakan
keperawatan. Dengan tujuan untuk
mengumpulkan untuk mengumpulkan informaasi dan membuat data dasar
pasien.
Aplikasi pengkajian
keperawatan
Dilaksanakan
tangal : Pengkajian dilaksanakan pada 3
hari setelah pasian masuk rumah sakit
Ruang
: Nama ruangan di rumah sakit
No
kamar/ TT : Nomer kamar yang berada di rungan tersebut
- Biodata
Nama : Nama pasien
Umur
: Umur pasien
Jenis
kelamin : Jenis kelamin pasien
Agama : Agama pasien
Alamat : Alamat pasien (tidak boleh alamat terang pasien)
Pendidikan : Pendidikan
terakhir pasien, apabila perawat menanyakan atau berkomunikasi dengan pasien
maka perawat menyesuaikan
Pekerjaan : Pekerjaan pasien
Status
: Status pasien
Tgl.
MRS :
Diagnosa :
Keluarga
yang mudah dihubungi
Nama :
Pekerjaan :
Alamat :
Hubungan
:
- Keluhan
a. Alasan
masuk rumah sakit :
b.
Keluhan saat pengkajian :
3. Riwayat
penyakit sekarang :
4. Riwayat
Penyakit Masa Lalu:
5. Riwayat
Kesehatan Keluarga:
6. Riwayat
Psiko sosial Spiritual
a.
Psikologis
b.
Sosial
c.
Spiritual
7. Pola aktivitas sehari-hari (di rumah
dan di rumah sakit).
No.
|
Kebiasaan
|
Di
Rumah
|
Di
Rumah Sakit
|
1.
|
Makan
|
.
|
|
2.
|
Minum
|
||
3.
|
Eliminasi BAB
|
||
4.
|
Eliminasi BAK
|
.
|
|
5.
|
Istirahat tidur
|
.
|
|
6.
|
Aktivitas / latihan olahraga dll
|
.
|
|
7
|
Kebiasaan personal hygiene
|
8. Pemeriksaan
Fisik
a) Keadaan
/ penampilan / kesan umum pasien :
GCS
(glasgow coma scale) 4-5-6
Eye
(respon membuka mata) : 4
(spontan)
Verbal
(respon verbal) : 5
(orientasi baik)
Motor
(respon motorik) : 6
(mengikuti perintah)
JACCOL
: jaundice ≠ , anemia ≠ , clubbing
finger ≠ , eyenosis ≠ , odema ≠ , limfe nodi ≠
b) Tanda-tanda
vital
TD : TB :
N : BB :
S :
RR :
TB – 100 150 – 100 50
c) Pemeriksaan
kepala dan leher
Kepala dan rambut :
Mata :
Hidung :
Telinga :
Mulut dan faring :
Leher :
a. Pemeriksaan
integumen kulit dan kuku:
b.
Pemeriksaan payudara dan ketiak:
c.
Pemeriksaan system pernafasaan
Inspeksi :
Auskustasi :
Palpasi :
Perkusi :
d.
Pemeriksaan system kardiovaskuler
Inspeksi
:
Palpasi :
Auskultasi
:
Perkusi
:
e. Pemeriksaan
abdomen ( IAPP), (sistem pencernaan)
Inspeksi
:
Auskultasi
:
Perkusi
:
Palpasi
:
f.
Pemeriksaan kelamin dan daerah
sekitarnyatidak ter
g.
Genetalia + anus =
h.
Pemeriksaan muskulo ( ekstrimitas)
Kekuatan
otot
4
4
4= mampu menahan, tetapi tidak bias
tahan-menahan.
i.
Pemeriksaan Neurologi
GCS
(Gaslow Coma Scale): 4-5-6
4=
spontan,
5=
orientsi baik
6=
mengikuti perintah
j.
Pemeriksaan Penunjang
*pemeriksaan
Laboratorium pada tanggal .
. . .
*Pemeriksaan
laboratrium pada tanggal . . .
ANALISA DATA
Nama Pasien :
Umur :
No. Registrasi :
No
|
Data
Penunjang
|
Masalah
|
Kemungkinan
Penyebab
|
2.2.3
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan
masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan
pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga,
menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien
Diagnosa pasien L adalah tonsil.
Diagnosa pasien L adalah tonsil.
(Carpenito, 2000; Gordon, 1976
& NANDA).
Aplikasi diagnosa keperawatan
RENCANA
ASUHAN KEPERAWATAN
Nama
Pasien :
Umur :
Dx
medis :
NO.DX
|
TUJUAN
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
2.2.4
Intervensi Keperawatan
(tindakan )
Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk
prilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus
dilakukan oleh perawat. Tindakan/intervensi keperawatan dipilih untuk membantu
pasien dalam mencapai hasil pasien yang diharapkan dan tujuan pemulangan.
Harapannya adalah bahwa prilaku dipreskripsikan akan menguntungkan pasien dan
keluarga dalam cara yang dapat diprediksi, yang berhubungan dengan masalah
diidentifikasikan dan tujuan yang telah dipilih. Intervensi ini mempunyai
maksud mengindividualkan perawatan dengan memenuhi kebutuhan spesifik pasien
serta harus menyertakan kekuatan-kekuatan pasien yang telah diidentifikasikan bila
memungkinkan.
Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas, dimulai dengan kata kerja aksi. Pengkualifikasi seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi dan besarnya memberikan isi dari aktifitas yang direncanakan. Misalnya, "Bantu aktivitas perawatan diri sesuai yang dibutuhkan setiap pagi."Catat frekuensi pernafasan dan nadi sebelum, selama, dan setelah aktifitas."Ukur masukan/haluaran setiap jam.''mendengar aktif kekhawatiran pasien mengenai diagnosa."
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2120652-definisi-tindakan-intervensi-keperawatan/#ixzz2EXlUB3gi
Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas, dimulai dengan kata kerja aksi. Pengkualifikasi seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi dan besarnya memberikan isi dari aktifitas yang direncanakan. Misalnya, "Bantu aktivitas perawatan diri sesuai yang dibutuhkan setiap pagi."Catat frekuensi pernafasan dan nadi sebelum, selama, dan setelah aktifitas."Ukur masukan/haluaran setiap jam.''mendengar aktif kekhawatiran pasien mengenai diagnosa."
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2120652-definisi-tindakan-intervensi-keperawatan/#ixzz2EXlUB3gi
Aplikasi intervensi keperawatan
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama Pasien :
Umur :
Dx medis :
NO.DX
|
TUJUAN
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
2.2.5
Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah melaksanakan apayang telah dirumuskan
dalam intervensi dan langkah-langkah dalam pelaksanaan, meliputi pelaksanaan
dan persiapan klien dalam menerima asuhan keperawatan. Perawat perlu
memperhatikan kemampuan dalam supervise komunikasi, motivasi kepemimpinan dalam
mengambil keputusan.
Pada langkah pelaksanaan
kegiatan, disamping perawat melaksanakan upaya mencapai tujuan, perawat juga
harusmemperhatikan aspek hukum dan etika berusaha mencegah kompikasi yang
timbul dalam asuhan keperawatan yang
diberikan.
Aplikasi implementasi keperawatan
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama
Pasien :
Umur :
Dx
Medis :
TANGGAL
|
JAM
|
DX
|
TINDAKAN KEPERAWATAN
|
TTD
|
2.2.6
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan kegiatan
yang disengaja dan terus menerus dengan melibatkan pasien dan anggota tim medis
lainnya. Evaluasi merupakan perbandingan sistematis dari rencana keperawatan pasien,
dengan tujuan yang telah dditetapkan dan dilakukan secara kesinambungan,
melibatkan pasien, perawat dan tim medis lainnya.
Adapun tujuan dari evaluasi
adalah untuk mengetahui apakah hasil yang diharapkan tercapai atau tidak dan
untuk mengetahui apakah timbul masalah baru setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
Aplikasi evaluasi keperawatan
EVALUASI
Nama
Pasien :
Umur :
Dx
Medis :
No.Dx
|
Tanggal
|
EVALUASI
|
TTD
|
1.
|
|||
2.
|
|||
1.
|
|||
2
|
2.3 Konsep Dasar Pemberian Kompres
Hangat
2.3.1
Pengertian
Kompres hangat merupakan salah satu cara untuk bekerja
mengurangi odem pada
penderita tonsil, dengan menggunakan air hangat yang bercampurkan parutan jahe dan ragi
yang sudah dihaluskan. Ketika pemberian kompres hangat harus lebih banyak minum dan tidak menggunakan pakaian
yang terlalu tebal karena akan
menguragi kenyamanan klien yang menderita tonsil dan
tidak berjalan dengan baik. Cara ini akan mengurangi odem atau pembengkakan pada tonsil akut
maupun tonsil kronik.
2.3.2
Fungsi
2.3.3
Cara Pemberian Kompres Hangat
Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari, dan
umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Untuk perawatan dan
pengobatannya dilakukan beberapa langkah sebagai berikut : - Diusahakan untuk
minum banyak air atau cairan sepertisari buah, terutama selama demam. - Jangan
minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan,
makanan awetan yang diasinkan, dan manisan. - Berkumur air garam hangat 3-4
kali sehari. - Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari. - diberikan
terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk
mencegah komplikasi.
Berikut ini beberapa contoh ramuan tumbuhan obat
yang dapat digunakan untuk radang amandel (tonsilitis) : - Bubuk sambiloto
sebanyak 3 - 4,5 gram diseduh dengan 200 cc air panas, tambahkan 1 sendok makan
madu, diaduk, lalu diminum hangat-hangat. Atau 30 gram sambiloto segar/15 gram
yang kering, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya
ditambahkan 200 cc jus buah nanas, diaduk, lalu diminum untuk 3 kali sehari,
setiap kali minum 200 cc. (untuk tonsilitis akut) - 2 buah mengkudu/pace matang
+ 20 gram kunyit, dicuci dan dihaluskan, disaring dan diambil airnya, tambahkan
air perasan 1 buah jeruknipis, dan 1 sendok makan madu, diaduk, lalu diminum.
Lakukan 2-3 kali sehari. (untuk tonsilitis akut). - 30 gram benalu jeruk nipis
atau benalu teh + 30 gram temu putih + 10 gram sambiloto kering + 20 gram
kunyit, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya
diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc. (Untuk tonsilitis
kronis dengan pembesaran tonsil yang agak besar). - 10 lembar daun cocor bebek
dihaluskan atau dijus, airnya digunakan untuk berkumur di tenggorokan. Lakukan
2-3 kali sehari. - 30-60 gram akar kembang pukul empat dijus, airnya digunakan
untuk berkumur di tenggorokan, lalu ditelan. Lakukan 2 kali sehari.
2.3.4
Cara mengobati amandel
Sakit Amandel biasanya menyerang pada anak-anak, tapi orang dewasa
juga ada kemungkinan terkena penyakit amandel. Jika tidak segera diobati
dan di tangani secara serius sakit amandel akan bisa membengkak dan bagi
penderita nya susah untuk bernafasbahkan untuk menelan makanan pun akan
terasa susah. Sakit Amandel atau bahasa ilmiah nya tonsil merupakan
kumpulan jaringan limfoid yang terletak pada kerongkongan di belakang kedua
ujung lipatan belakang mulut. Fungsi dari Amandel itu sendiri adalah untuk
mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan kuman
memasuki tubuh. Oleh karena itu kelenjar amandel ini meradang. Peradangan pada
Kelenjar amandel ini disebut dengan tonsilitis, penyakit ini merupakan salah
satu gangguan THT (Telinga Hidung & Tenggorokan). Tonsilitis dapat bersifat
akut atau kronis. Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6
hari, dan umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Sedangkan radang
amandel/tonsil yang kronis terjadi secara berulang-ulang dan berlangsung lama.
Cara Mengobati Amandel dengan Obat Tradisional
Cara
mengobati amandel dengan Buah Mengkudu untuk mengobati amandel Bahan:
2Buah mengkudu
Madu murni secukupnya.
2Buah mengkudu
Madu murni secukupnya.
Cara membuat ramuan
tradisional dengan buah Mengkudu untuk mengobati amandel : Buah mengkudu
diperas, disaring dan ditambah sedikit air panas. Air perasan dimasukkanke
dalam gelas lalu dicampur dengan madu, aduk sampai rata
1. Cara pemakaian obat tradisional
alami dengan buah mengkudu : Diminum 3 kali sehari. Caranya minum dipakai
berkumur lebih dahulu selama beberapa menit kemudian baru ditelan
2. Cara mengobati amandel dengan Jeruk
Nipis untuk mengobati amandel
Bahan : Jeruk nipis 3 buah,
diperas kemudian diambil airnya lalu diberi sedikit kapur sirih diaduk rata.
Cara pemakaian obat
tradisional alami dengan Jeruk Nipis untuk mengobati amandel : Diminum
menjelang tidur malam selama 3 hari berturut-turut
3. Ramuan Tradisional untuk menyembuhkanpenyakit Amandel dengan Kulit
Manggis
Bahan : Kulit manggis kering 15 gram dan
minyak permen 2 sendok teh
Cara
pemakaian obat tradisional alami dengan Jeruk Nipis untuk mengobati
amandel : Kulit manggis direbus dengan 2 botol air sampai mendidih dan
tinggal 1 botol. Sesudah itu teteskan minyak permen dan diaduk
rata. Gunakan ramuan ini berkumur selama beberapa kali dalam sehari
2.3.5
Cara
Pencegahan
Cara mencegah penyakit amandel
sebagai pencegahan agar terhindar dari penyakit amandel :
Beberapa upaya yang dapat kita lakukan sendiri dirumah untuk
pencegahan, perawatan dan pengobatannya dilakukan beberapa langkah sebagai
berikut :
1.
Diusahakan untuk minum
banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
Jangan
minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan,
makanan awetan
2.
yang diasinkan, dan manisan.
3.
Berkumur air garam hangat
3-4 kali sehari.
4.
Menaruh kompres hangat pada
leher setiap hari.
5.
Diberikan terapi antibiotik
(atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah
komplikasi.
- Istirahat yang cukup.
2.4 
|
|
Kerangka Konsep
|
|
![]() |

BAB 3
METODE
STUDI
3.1 Desain
Penelitian
Desain
penelitian merupakananalitik observasional, yaitu penelitianyang mencoba
menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi(Notoatmodjo, 2005). Penelitian ini menggunakan
analitik korelasi merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah
satu teknik pengukuran asosiasi atau hubungan
(meansures of association).Desain penelitian yang dipakai dalam
penelitian ini adalah studi kasus.
3.2 Kerangka
Kerja
Kerangka
kerja merupakanMenurut Nursalam (2003), kerangka kerja adalah tahapan dalam
suatu penelitian yang menyajikan alur penelitian, terutama variabel yang akan
digunakan. Kerangka kerja dalam penelitian dijelaskan dalam diagram.
![]() |
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini akan dilaksanakan di Rumah Sakit M
pada tanggal 20
Januari 2013.
3.4 Subyek Penelitian
Subyek
penelitian merupakan subjek yang
diikutsertakan (misalnya manusia) yang memenuhikriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008).Subyek dalam penelitian ini adalah Ny. L
dengan disgnosa medis tonsil di RS. M
3.5 Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan batasan yang
dapat dijangkau dalam melakukan penelitian.Fokus penelitian dalam studi kasus
ini adalah pemberian kompres hangat dalam mengurangi odem pada tonsil.
3.6 Metode Pengumpulan Data
1. Proses Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan
penelitian untuk melakukan pengumpulan data yang akan digunakan untuk
penelitian. (Aziz, 2003 : 38).
Pengumpulan data dilakukan oleh
peneliti setelah mendapat ijin melakukan penelitian dari institusi pendidikan,
kemudian peneliti mengadakan pendekatan kepada responden untuk mendapatkan
persetujuan menjadi responden. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data
yang digunakan dengan wawancara dan observasi.
2. Instrumen Penelitian
Instrument adalah alat yang digunakan
untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2002). Pada penelitian instrument
yang digunakan adalah wawancara dengan 15 pertanyaan.
3.7 Metode Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data
merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep
kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) menurut versi “positivisme”
dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan, kriteria dan paradigmanya sendiri. Mula-mula hal itu harus
dilihat dari segi kriteria yang digunakan oleh nonkualitatif. Istilah yang
digunakan antara lain adalah “validitas
internal, validitas eksternal dan reliabilitas”.
Jelaskan uji keabsahan data yang digunakan
menggunakan
3.8 Metode Analisa Data
Analisa
data merupakan suatu kegiatan untuk meneliti, memeriksa mempelajari, membandingkan data yang ada dan membuat interpretasi
yang diperlukan. Selain itu, analisa data dapat digunakan untuk
mengidentifikasi ada tidaknya masalah. Kalau ada masalah tersebut harus
dirumuskan dengan jelas dan benar. Teknik analisis yang
digunakan adalah analisis deskriptif yang memberikan gambaran dengan jelas dan
benar. Teknis analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang
memberikan gambaran dengan jelas makna dari indikator-indikator yang ada,
membandingkan dan menghubungkan antara indikator yang satu dengan indikator
lain.
Kegunaan
analisis data adalah sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan,
perencanaan, pemantauan, pengawasan, penyusunan laporan, penyusunan statistik
pendidikan, penyusunan program rutin dan pembangunan, peningkatan program
pendidikan, dan pembinaan. http://pakguruonline.pendidikan.net/datordik_6.html
3.9
Etika Penelitian
Sebelum
melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan kepada institusi Prodi
Keperawatan Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang untuk mendapatkan
persetujuan. Setelah itu baru melakukan penelitian pada responden dengan
menekankan pada masalah etika yang meliputi :
3.9.1
Informed
Consent (persetujuan)
Informed Consent
diberikan sebelum penelitian dilakukan pada subjek penelitian. Subjek diberi
tahu tentang maksud dan tujuan penelitian. Jika subjek bersedia responden
menandatangani lembar persetujuan.
3.9.2
Anonimity
(Tanpa nama)
Responden tidak perlu mencantumkan namanya pada lembar
pengumpulan data. Cukup menulis
nomor responden atau inisial saja untuk menjamin kerahasiaan identitas.
3.9.3
Confidentiality
(Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang diperoleh dari responden akan
dijamin kerahasiaan oleh peneliti. Penlajian data atau hasil penelitian hanya
ditampilkan pada forum Akademis.
3.10 Keterbatasan
1. Alat
ukur atau instrument
Pada penelitian ini alat ukur atau
instrument yang digunakan adalah wawancara dan observasi sehingga memungkinkan
responden menajwab pertanyaan dengan lebih dipengaruhi oleh sikap dan
harapan-harapan pribadi yang bersifat subjektif sehingga hasilnya kurang
mewakili secara kualitatif.
2. Waktu
dalam penelitian ini sangat terbatas, sehingga hasil yang didapatkan kurang.ingga hasilnya kurang
mewakili secara kualitatif.
2. Waktu
dalam penelitian ini sangat terbatas, sehingga hasil yang didapatkan kurang.
Langganan:
Komentar (Atom)







